5 August 2026 12:17
Di tengah guncangan ekonomi global yang penuh ketidakpastian, Bank Indonesia (BI) mengambil langkah strategis dengan mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 5,75%. Fokus utama bank sentral saat ini adalah menyeimbangkan stabilitas nilai tukar rupiah sambil tetap menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik.
Asisten Gubernur Bank Indonesia, sekaligus Kepala DKMP BI, Solikin M. Juhro, dalam wawancara di program Zona Bisnis Metro TV, Rabu, 5 Agustus 2026 mengungkapkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih sangat solid meskipun proyeksi pertumbuhan global direvisi turun ke angka 3%.
"Di tengah ketidakpastian yang tinggi itu, ekonomi kita masih tumbuh positif. Kita lihat selama ini kita tumbuh 5,06% di triwulan pertama. Ini tentunya angka yang privilege kita, enggak gampang bisa mencapai 5% di tengah ketidakpastian tinggi ini. Kalau kita lihat dukungan dari permintaan domestik dari sisi pemerintah dan juga belanja fiskal ya," ujar Solikin.
Likuiditas Perbankan Masih "Ample"
Solikin menegaskan bahwa sektor perbankan nasional memiliki daya tahan yang kuat untuk menyerap risiko global. Indikator permodalan berada di angka tinggi sebesar 23,7% per Mei 2026, dengan risiko kredit yang terjaga jauh di bawah ambang batas 5%.
Kinerja kredit juga menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan sebesar 12,67% pada Juni 2026. Pertumbuhan ini didominasi oleh sektor produktif, seperti kredit investasi dan modal kerja.
Inovasi Insentif: Kredit vs Surat Berharga
Untuk memastikan perbankan lebih aktif menyalurkan kredit ke sektor riil daripada sekadar menumpuk aset di surat berharga (seperti SRBI atau SBN), BI memperkuat Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM).
Berikut adalah poin-poin utama penyempurnaan kebijakan tersebut: