Tragedi Kecelakaan Kapal Terus Berulang

15 September 2026 09:37

Berulangnya kecelakaan kapal di berbagai wilayah perairan Indonesia kembali memicu sorotan tajam terhadap keandalan sistem keselamatan pelayaran. Berbagai insiden laut yang terjadi dari tahun ke tahun disebabkan oleh beragam faktor, mulai dari gangguan teknis, cuaca ekstrem, hingga kesalahan manusia (human error).

Dikutip dalam tayangan Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Selasa, 15 September 2026, berdasarkan data lima tahun terakhir (2020–2025), jumlah kecelakaan kapal di Indonesia menunjukkan tren fluktuatif. Pada 2020 tercatat 12 kasus dengan korban luka-luka terbanyak mencapai 33 orang. Angka kecelakaan meningkat pada 2021 menjadi 19 kasus dengan angka kematian tertinggi mencapai 96 korban jiwa. Selanjutnya, terjadi 14 kasus pada 2022 yang merenggut 88 korban jiwa, tujuh kasus pada 2023, enam kasus pada 2024, serta delapan kasus pada 2025.

Memasuki 2026, serangkaian tragedi pelayaran kembali terjadi sepanjang Januari hingga September. Rangkaian musibah diawali insiden KM Putri Sakinah di perairan Labuan Bajo pada Januari 2026, disusul KM Lintas Samudra yang diduga mengalami kebocoran lambung di Selat Makassar pada Maret 2026. Pada Mei 2026, sebuah speedboat penumpang di Kepulauan Seribu mengalami kecelakaan akibat dugaan ledakan mesin (human error).
 



Kejadian berlanjut pada Juli 2026 dengan kecelakaan speedboat akibat cuaca ekstrem di Teluk Tomini, serta KM Nurul Salsa yang mengakibatkan 4 orang meninggal dunia dan 14 orang hilang. Pada Agustus 2026, musibah melanda KMP Mutiara Sentosa 2 akibat kebakaran dek di Laut Jawa, KMP Putri Yasmin di lintasan Padangbai yang dipicu kepulan asap kendaraan di car deck, dan KM Prince Soya di Pelabuhan Samarinda. Teranyar, pada September 2026, KM Virgo Transport 8 terbalik di perairan Masalembo, Laut Jawa, yang menyebabkan lebih dari 100 orang masih dalam pencarian tim SAR.

Dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI, Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI M. Syafii mengungkapkan bahwa pihaknya telah menggelar 601 operasi SAR sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Kasus tertinggi didominasi oleh insiden penumpang atau awak kapal jatuh ke laut (man overboard) sebanyak 178 kasus. Selain itu, tercatat 92 kasus kapal hilang kontak, 52 kasus gabungan kapal tenggelam, terbalik, dan evakuasi medis, serta 15 kasus kapal terbakar. Kasus lain mencakup kapal mati mesin, kandas, tubrukan, bocor, hanyut, kerusakan konstruksi, hingga kapal miring.

Guna menekan angka kecelakaan laut, Basarnas mengeluarkan rekomendasi keselamatan yang berfokus pada langkah pencegahan dan kesiapan kedaruratan. Rekomendasi tersebut meliputi:

  • Pemeriksaan Kelaikan Kapal: Memastikan kondisi lambung, mesin, serta sistem navigasi dan komunikasi diperiksa secara berkala layaknya uji KIR.Ketersediaan Alat Keselamatan: Memastikan life jacket, sekoci, dan life raft tersedia lengkap serta siap pakai saat berlayar.
  • Akurasi Manifes Penumpang: Memperkuat pendataan manifes penumpang secara digital dan real-time.
  • Pengarahan Keselamatan (Safety Briefing): Wajib memberikan pembekalan prosedur darurat kepada penumpang sebelum berlayar.
  • Simulasi Kedaruratan (Drill): Menyelenggarakan latihan simulasi tanggap darurat secara berkala.

(Firny Firlandini Budi)


Close Ads X
Close Ads X