Jakarta: Pelaksanaan ibadah haji 2026 telah memasuki tahap evaluasi. Tentunya sejumlah catatan penting muncul dari hasil pemantauan langsung tim Amirul Haj selama mendampingi jemaah Indonesia di Arab Saudi. Apa saja catatannya dan berapa jamah haji yang sudah tiba di Tanah Air?
120 kloter tiba di Tanah Air
Terdapat 120 kloter atau 47.012 jemaah haji yang telah tiba di Tanah Air, per Senin, 8 Juni 2026. Saat ini fokus
Kementerian Haji dan Umrah bersama
petugas penyelenggaraan ibadah haji atau (PPIH) adalah untuk memastikan seluruh proses pemulangan jamaah ke Tanah Air bisa berjalan dengan aman, nyaman dan juga lancar hingga kloter terakhir tiba dimulai nanti tanggal 16 Juni hingga 1 Juli mendatang.
Evaluasi penyelenggaraan haji
Selain soal evaluasi internal, Menhaj juga mengantongi sejumlah rekomendasi dari tim Amirul Haj untuk penyempurnaan musim haji mendatang.
Berikut poin-poin utama yang menjadi sorotan:
Mulai dari layanan di Mina, yang masih menghadapi persoalan kepadatan. Menurut Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf atau disapa dengan Gus Irfan bahwa kawasan Mina masih menjadi tantangan terbesar dalam penyelenggaraan haji karena keterbatasan ruang yang harus menampung jutaan jemaah dari seluruh dunia.
Berbeda dengan Arafah yang memiliki luas sekitar 17 km persegi, kawasan Mina hanya berkisar sekitar 8 hingga 9 km persegi. Bahkan untuk area yang benar-benar bisa digunakan untuk aktivitas jemaah diperkirakan tidak lebih dari 5 km persegi saja, karena sebagian wilayah ini berupa pegunungan batu.
Kondisi inilah yang menyebabkan terjadinya pemadatan luar biasa selama puncak pelaksanaan ibadah haji. Tidak hanya jemaah Indonesia, seluruh jemaah dari berbagai negara juga berkumpul di lokasi yang sama dalam waktu yang bersamaan.
Yang kedua adalah soal ketepatan waktu transportasi jemaah. Tim Amirul Haj menyoroti aspek transportasi yang menjadi urat nadi mobilitas jemaah selama fase puncak haji. Evaluasi mencakup pergerakan jemaah dari Makkah menuju Arafah, kemudian dari Arafah ke Muzdalifah dan Mina dalam rangkaian Armuzna.
Meski ditemukan sejumlah keterlambatan pada beberapa titik keberangkatan dan perpindahan jemaah, pemerintah menilai bahwa proses evakuasi secara keseluruhan sudah berjalan sesuai dengan target. Seluruh jemaah berhasil dipindahkan tanpa menimbulkan penumpukan berkepanjangan di lokasi-lokasi yang tentunya krusial.
Catatan berikutnya adalah menyangkut layanan bus sholawat yang selama ini menjadi sarana utama transportasi jemaah dari hotel menuju ke Masjidil Haram. Tim Amirul Haj menilai bahwa penghentian sementara operasional bus setelah fase Armuzna sangat berdampak pada aktivitas ibadah jemaah di sana, terutama mereka yang ingin segera melaksanakan tawaf ifadah.
Menurut Gus Irfan, banyak jemaah yang harus menunggu lebih lama karena pembukaan kembali layanan transportasi tidak dapat dilakukan secara langsung. Tentunya kondisi ini terjadi atas permintaan otoritas Arab Saudi yang melakukan pengaturan lalu lintas dan pergerakan jemaah pascapuncak haji.
Dan yang keempat adalah kualitas dan lokasi hotel di Makkah. Tim Amirul Haj merekomendasikan agar pada musim haji mendatang pemerintah dapat mengupayakan penempatan hotel yang lebih dekat dengan Masjidil Haram. Langkah ini dianggap akan mengurangi getergantungan jemaah terhadap layanan transportasi dan memberikan kenyamanan lebih, terutama bagi lansia serta jemaah dengan kondisi kesehatan tertentu.
Gus Irfan mengatakan bahwa berbagai rekomendasi tersebut lahir dari pengamatan langsung di lapangan selama proses pelaksanaan ibadahi haji.
Tim Amirul Haj mendorong peningkatan penggunaan komponen dan juga produk dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan makanan jemaah. Namun upaya ini masih menghadapi tantangan akibat dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah yang tentunya mempengaruhi distribusi sejumlah bahan pangan dan juga komoditas.
Di sisi sumber daya manusia, Amirul Haj juga menemukan adanya kesenjangan kualitas antara petugas kloter dan juga petugas penyelenggara ibadah haji atau PPIH. Petugas PPIH dinilai memiliki kesiapan yang lebih baik karena mendapatkan pelatihan intensif selama hampir satu bulan di Asrama Haji Pondok Gede sebelum bertugas di Arab Saudi.
Sebaliknya petugas kloter belum memperoleh pembekalan dengan standar yang sama sehingga perbedaan tersebut berdampak pada kualitas layanan yang diterima oleh jemaah di lapangan.
Catatan berikutnya adalah tim Amirul Haj mencatat perlunya penyempurnaan sistem penanganan jemaah yang sakit agar proses pelayanan medis itu dapat berlangsung lebih cepat, terintegrasi dan juga responsif selama masa operasional haji.
Menurut Menhaj hasil evaluasi ini menunjukkan bahwa petugas haji yang mengikuti pendidikan dan pelatihan secara komprehensif memiliki performa layanan yang jauh lebih baik karena itu standarisasi pelatihan dan juga peningkatan kompetensi petugas akan menjadi salah satu fokus pembendahan kedepannya.
Kemudian di bidang kesehatan, tim Amirul Haj juga memberikan perhatian khusus terhadap penguatan istitoah kesehatan, sistem penanganan jemaah sakit serta ketersediaan tenaga kesehatan. Menurut Menhaj aspek kesehatan akan menjadi salah satu fokus utama dalam penyelenggaraan haji tahun depan.
Catatan yang terakhir adalah perbaikan terkait dengan fasilitas tenda, kemudian juga sanitasi serta komitmen untuk pengurangan sampah plastik selama operasional haji.
Pernyataan Menhaj
Berikut kita simak pernyataan Menteri Haji dan Umrah terkait dengan evaluasi penyelenggaraan haji 2026. Gus Irfan menyatakan bahwa seluruh tahapan penyelenggaraan haji secara umum berjalan sesuai dengan harapan, tentu masih ada sejumlah kekurangan yang menjadi bahan evaluasi, namun itu akan menjadi bagian dari upaya perbaikan layanan ke depannya.
Menteri Haji juga menambahkan bahwa berbagai catatan ini akan menjadi bekal penting, komitmennya adalah menghadirkan layanan yang semakin profesional, responsif, dan juga berorientasi pada kebutuhan Jemaah.
Sumber: Redaksi Metro TV