Karhutla Lahan Gambut di Kalimantan Sulit Dipadamkan, Ini Kata Peneliti BRIN

13 October 2026 11:43

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Kalimantan, khususnya pada ekosistem gambut, kembali memicu kemunculan asap hingga berpotensi berdampak pada negara tetangga. Peneliti Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dony Rachmanadi, menjelaskan bahwa penanganan karhutla di lahan gambut sangat kompleks karena karakteristik tanah yang unik serta penuh tantangan.

Menurut Dony, lahan gambut di Indonesia didominasi oleh bahan penyusun berupa kayu atau lignin. Ketika mengalami kekeringan ekstrem, bahan tersebut membentuk lapisan lilin yang bersifat hidrofobik atau menolak air. Akibatnya, air yang disiramkan ke permukaan gambut tidak meresap dan justru menguap dengan cepat lantaran suhu kebakaran di lokasi dapat mencapai 500 hingga 600 derajat Celsius.

"Bahan penyusun ini pada saat dia mengalami kekeringan yang ekstrem dia membentuk seperti lapisan lilin yang disebut memiliki sifat hidrofobik atau menolak air, sehingga kalau kita menyiram permukaan gambut itu air itu seperti lewat saja dan apabila mengalami kebakaran itu suhu yang terjadi bisa mencapai 500 sampai 600 derajat sehingga air yang ada yang kita semprotkan itu akan mengalami penguapan dengan cepat." kata Dony, dikutip dari tayangan Selamat Pagi Indonesia, Metro TV, Selasa, 13 Oktober 2026.

Selain itu, kondisi kemarau berkepanjangan memicu terbentuknya "api mandiri" atau bara api di bawah permukaan tanah. Bara api yang tersimpan di dalam lapisan gambut ini dapat kembali menyala sewaktu-waktu apabila mendapat asupan oksigen, meskipun area permukaan tampak sudah padam.

"Apabila sudah menjadi titik api akan muncul dengan kondisi kemarau yang berkepanjangan akan muncul apa yang disebut dengan api mandiri yang tadi membentuk bara yang akan terus membakar bahan bakar yang ada di sekitarnya." ucap Dony.
 



Data perbandingan tiga tahun terakhir menunjukkan bahwa penurunan tinggi muka air tanah di Kalimantan Tengah pada 2026 terjadi jauh lebih cepat. Jika biasanya penurunan drastis baru terjadi pada bulan Agustus, pada 2026 tinggi muka air tanah tercatat sudah merosot hingga 34 sentimeter sejak bulan Juni.

Di lapangan, tim pemadam darat menghadapi kendala fisik yang berat, seperti harus berjalan melintasi lahan gambut yang tertutup tumpukan kayu serta membutuhkan waktu lebih dari dua jam hanya untuk menemukan sumber air di areal yang jauh dari kanal atau sungai. 

"Informasi dari teman-teman di lapangan itu membutuhkan waktu lebih dari 2 jam untuk mencari sumber air pada areal yang jauh dari kanal atau dari sungai, belum lagi bagaimana susahnya tim darat berjalan di atas lahan gambut yang penuh dengan tumpukan kayu." ungkapnya.

Oleh karena itu, Dony menekaskan bahwa metode penanganan yang paling efektif dalam mengendalikan karhutla di lahan gambut adalah upaya pencegahan dini sebelum status hotspot berubah menjadi fire spot.

"Tapi kalau berbicara mengenai efektivitas metode yang paling bagus memang kita harus berbicaranya pada tahap pencegahan." ucapnya.

(Nopita Dewi)


Close Ads X
Close Ads X