22 May 2026 15:29
Pemerintah Indonesia memperkuat belanja subsidi dan kompensasi energi untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah lonjakan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik di Timur Tengah. Hingga akhir April 2026, realisasi belanja subsidi dan kompensasi tercatat mencapai Rp153,1 triliun atau melonjak 223,1 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Lonjakan anggaran tersebut dipicu kenaikan harga minyak mentah Brent yang sempat menyentuh USD111,28 per barel akibat ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz. Kondisi itu membuat biaya impor energi Indonesia ikut meningkat tajam.
Dari total belanja tersebut, subsidi energi tercatat sebesar Rp74,9 triliun. Sedangkan kompensasi untuk BUMN energi mencapai Rp78,2 triliun. Pemerintah menyebut langkah ini dilakukan agar kenaikan harga energi global tidak langsung membebani masyarakat.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pemerintah tetap membayar subsidi dan kompensasi sesuai kebutuhan yang diajukan PT Pertamina dan PT PLN Persero.
“Belanja subsidi kompensasi untuk menjaga daya beli masyarakat, ya kita bayar dengan sesuai dengan yang diminta oleh PLN dan Pertamina. Kan sekarang udah betul kan, Januari, Februari, Maret itu selalu kita bayar subsidinya semuanya penuh, tapi untuk kompensasinya kita bayar 70 persen,” ujar Purbaya dalam tayangan Zona Bisnis Metro TV, Jum'at 22 Mei 2026.
Baca Juga :