24 September 2026 16:17
Surabaya: Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman mendorong penguatan inkubator kewirausahaan di kampus untuk membantu pemerintah mencapai target 10 juta wirausaha baru hingga 2029.
Maman mengatakan inkubator dibutuhkan sebagai perpanjangan tangan pemerintah dalam membina pelaku UMKM agar lebih terstruktur, sistematis, terintegrasi, dan berkelanjutan.
“Kita ingin mulai menghidupkan inkubator-inkubator, lembaga-lembaga inkubator yang ada di seluruh tanah air kita baik itu yang di bawah binaan kampus dan juga yang di luar kampus,” kata Maman usai acara Bursa Wirausaha Unggulan di Gedung Pusat Robotika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Jawa Timur, dikutip dari tayangan Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Kamis 24 September 2026.
Menurut Maman, penguatan inkubator penting karena banyak produk UMKM yang memiliki kualitas baik tetapi tidak mampu berkembang secara berkelanjutan.
“Kenapa harus inkubator? Karena kita butuh perpanjang tanganan agar pembinaan kepada usaha mikro kecil menengah itu lebih terstruktur, tersistematis, dan terintegrasi, dan serta berkelanjutan,” ujarnya.
Maman menilai keberlanjutan usaha menjadi salah satu persoalan yang perlu diperkuat. Ia menyebut riset dan pengembangan produk UMKM kerap terhenti sehingga usaha yang sudah dibangun akhirnya tidak berkembang.
“Kebanyakan banyak produk-produk kita UMKM itu bagus tetapi karena tidak ada sustainability-nya, risetnya nggak jalan dan lain sebagainya akhirnya berhenti,” kata Maman.
Karena itu, Maman mendorong kerja sama dengan perguruan tinggi sebagai bagian dari ekosistem kewirausahaan. Menurutnya, kampus memiliki potensi besar dalam menghasilkan inovasi yang dapat mendukung pengembangan UMKM.
“Nah ini menjadi penting kerjasama ini dengan kampus sebagai salah satu institusi akademik kita yang menurut kami kampus itu banyak sekali melakukan inovasi-inovasi,” ujarnya.
Penguatan ekosistem kewirausahaan tersebut menjadi bagian dari Bursa Wirausaha Unggulan yang mempertemukan pelaku usaha dengan akses pembiayaan, pendampingan, pengembangan usaha, hingga akses pasar.
Dalam kegiatan yang sama, pemerintah juga menggelar akad massal Kredit Usaha Rakyat (KUR) Jawa Timur. Hingga saat ini, Kementerian UMKM telah menyalurkan KUR sebesar Rp37 triliun kepada lebih dari 640 ribu pelaku UMKM di Jawa Timur. Sebanyak Rp23 triliun di antaranya dialokasikan untuk sektor produksi.
Pemerintah menekankan penyaluran KUR perlu diikuti pendampingan dan akses pasar agar tambahan modal yang diterima pelaku usaha dapat mendorong peningkatan produksi, membuka lapangan kerja, dan membuat UMKM naik kelas.
Selain pembiayaan dan inkubasi, pemerintah juga akan mulai membatasi impor sejumlah produk dari luar negeri, termasuk garmen, baju, dan tekstil, untuk menjaga daya saing industri domestik serta UMKM lokal.