Jakarta: Atlet dan aktivis sosial Patrick Winata menceritakan di balik perjuangannya sebelum berhasil memecahkan rekor Guinness World Records dengan bertinju selama 24 jam tanpa henti. Dia mengaku sempat hampir menyerah dalam proses pelatihannya.
Patrick menjalani latihan selama empat bulan. Fisik dan mentalnya diasah dengan latihan yang sangat keras. Pola makannya sangat dijaga untuk mempertahankan kebugaran.
"Saat persiapan itu, di mana saat saya mau mundur itu sebenarnya di latihan. Bukan di hari H (saat tinju 24 jam tanpa henti berlangsung)," kata Patrick, dalam program Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Sabtu, 10 Januari 2026.
"Sudah mau mundur. Itu di persiapan di tertingginya kita waktu itu. Berat banget waktu itu," tutur Patrick, menambahkan.
Dia mengenang momen itu, semua tubuhnya terasa sangat sakit. Tangan sudah bengkak. Belum lagi dipusingkan dengan masalah sponsor. Saat itu pihaknya belum berhasil mendapatkan sponsor.
"Bisa bayangin yang berat fisik, mental itu saat-saat di mana saya tuh hampir mundur," katanya.
Namun, berkat tekad kuatnya, dia tetap menyanggupi menghadapi tantangan tersebut. Jika dia mundur, harapan anak-anak pengidap
kanker yang menantikan bantuannya akan pupus.
"Kalau saya mundur hari ini tuh enggak ada nih anak Indonesia nih, anak dari timur sana,
Papua, yang bisa memecahkan rekor dunia," ucapnya.
Sebagai informasi, hasil pemecahan rekor dunia yang diraih Patrick bukan hanya sekadar menjadi pencapaian fisik, tetapi juga membawa dampak sosial yang signifikan dengan menggalang lebih dari Rp230 juta untuk Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI).
Founder & CEO ELV8 Clinic, Jonathan Luhur, mengatakan, pencapai Patrick menginspirasi banyak orang untuk melihat olahraga bukan hanya sebagai ajang kompetisi, tetapi juga sebagai medium untuk menyuarakan kepedulian sosial.
"Bagi kami, ini bukan sekadar rekor, tapi momentum untuk menunjukkan bahwa tubuh manusia bisa berkembang jika dipersiapkan dengan benar," kata Jonathan.