Rajut Masa Depan, Akademi Kuliner di Kota Gaza Kembali Dibuka

8 July 2026 18:09

Di tengah puing-puing perang, harapan masih menyala dari dapur sebuah akademi kuliner di Kota Gaza. Meski kehilangan gedung dan peralatan, para siswa ini memilih meracik masa depan di tengah keterbatasan.

Di tengah puing-puing perang, sebuah akademi kuliner di Kota Gaza kembali membuka pintunya setelah hampir tiga tahun tutup. Gedung lama hancur akibat konflik sehingga kegiatan belajar dipindahkan ke lokasi baru.

Sebagian besar peralatan memasak ikut rusak dalam perang. Pembatasan di perbatasan juga memperlambat masuknya peralatan baru untuk menunjang proses pembelajaran. Meski demikian, akademi tetap berupaya memberikan kesempatan bagi para siswa untuk melanjutkan pendidikan.

Direktur akademi, Ahmed Abu Taha mengatakan kegiatan belajar mengajar dihadapkan pada berbagai kendala. Pemadaman listrik memaksa mereka mengandalkan generator dan sumber energi alternatif yang mahal. Harga gas dan bahan baku terus melambung, sementara ketersediaannya seringkali sangat terbatas. Kondisi tersebut memperberat operasional akademi di tengah situasi ekonomi yang memburuk. Namun kegiatan pelatihan tetap berjalan meski dengan segala keterbatasan.

"Kami menghadapi pemadaman listrik yang terus-menerus, yang memaksa kami untuk bergantung pada generator mahal dan sumber energi alternatif. Harga gas sangat tinggi, dan bahan baku tidak hanya mahal tetapi seringkali tidak tersedia. Semua ini sangat berdampak pada pekerjaan kami, terutama dalam kondisi ekonomi yang buruk saat ini." kata Direktur Akademi, Ahmed Abu Taha, dikutip dari tayangan Metro Siang, Metro TV, Rabu, 8 Juli 2026.
 



Banyak siswa akademi kehilangan rumah dan masih tinggal di kamp pengungsian. Salah satunya, Maram Kilab yang mengaku ingin mengubah kegemarannya memasak menjadi keahlian profesional. Meski masih mengungsi di Gaza Selatan, ia tetap bertekad menyelesaikan pendidikannya. 

Bagi para siswa, akademi ini bukan sekadar ruang belajar, tetapi juga tempat menumbuhkan harapan akan masa depan yang lebih baik. Pelatihan yang mereka terima diharapkan mampu membuka peluang kerja dan usaha mandiri.

"Saya bergabung dengan program diploma ini untuk mengubah hasrat saya dalam memasak menjadi keterampilan profesional yang layak. Salah satu tantangan terbesar adalah saya masih mengungsi di Gaza Selatan karena perang." ucap Mahasiswa Kuliner, Maram Kilab.

Menurut PBB, sekitar 75 persen lahan pertanian di Gaza telah rusak atau hancur akibat perang. Sekitar 77 persen penduduk menghadapi krisis pangan akut, sementara hampir 80 persen masih hidup dalam pengungsian. Di tengah kondisi tersebut, akademi kuliner menjadi simbol ketahanan dan harapan bagi generasi muda. Setiap keterampilan yang dipelajari menjadi bekal untuk membangun kembali kehidupan mereka

Sebab bagi banyak pemuda Gaza, merajut masa depan adalah perjuangan yang sama besarnya dengan membangun kembali tanah kelahiran mereka.

"Kami berharap setiap siswa pada akhirnya dapat memulai bisnis mereka sendiri dan meningkatkan situasi ekonomi mereka. Beberapa sudah memiliki bakat alami, dan pelatihan ini membantu mengasah keterampilan mereka, sementara yang lain melanjutkan ke tingkat keahlian yang lebih tinggi." tutur Instruktur Koki Kue, Rasha Massoud.

Sekolah ini bukan sekadar tempat belajar memasak, melainkan tungku yang terus menjaga api harapan tetap menyala. Di tengah krisis pangan, pengungsian, dan hancurnya berbagai fasilitas, setiap keterampilan yang dipelajari menjadi bekal untuk menata kembali kehidupan. Bagi generasi muda, membangun masa depan ternyata sama menantangnya dengan membangun kembali kota yang porak-poranda. Namun selama harapan masih dirawat, mimpi untuk bangkit belum pernah padam.

(Nopita Dewi)


Close Ads X
Close Ads X