Pameran Seni Indonesian Women Artist ke-4 Hadirkan Perpaduan Karya 12 Perupa

10 April 2026 16:12

Indonesian Women Artist ke-4 resmi digelar di Galeri Nasional Indonesia, menghadirkan karya-karya perempuan perupa yang tidak hanya artistik, tetapi juga sarat makna dan inovasi lintas disiplin. Pameran ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Perempuan Sedunia, sekaligus menyambut Hari Kartini dan Dirgahayu Kota Jakarta ke-499.

Diselenggarakan oleh Badan Layanan Umum Museum dan Cagar Budaya bekerja sama dengan Yayasan Cemara enam, pameran ini mengusung tema “On the Map: Art, Science, Technology and the Culture”. Tema tersebut dipilih untuk menegaskan posisi perempuan Indonesia dalam peta perkembangan seni rupa yang kini semakin terhubung dengan sains dan teknologi.

Pembukaan pameran turut dihadiri oleh Veronica Tan dan Lestari Moerdijat, serta sejumlah perwakilan perempuan dari kedutaan besar di Indonesia. Kehadiran mereka menjadi simbol dukungan terhadap kiprah perempuan dalam dunia seni dan budaya.

Ketua Yayasan Cemara Enam, Inda C. Noerhadi, menjelaskan bahwa IWA ke-4 menghadirkan perpaduan karya dari 12 perupa perempuan kontemporer dengan lima seniman perempuan terdahulu yang telah berpulang. 

"Nah bedanya IWA ke-4 ini tentu kami padukan karya perempuan ke-12 perupa tadi dengan karya lima para perupa terdahulu jadi yang sudah almarhum ya. Nah di sini tentu ada satu perjalanan kreativitas dan tentu wacana pemikiran mereka dari seniman-seniman terdahulu yang kita bisa lihat, kita bisa apa nama amati," ujar Inda, dikutip dari tayangan Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Jum'at 10 April 2026. 



Salah satu karya yang mencuri perhatian datang dari Rani Jambak melalui instalasi berjudul “Pamedangan”. Karya ini menggabungkan tradisi dan teknologi dengan mengeksplorasi identitas Minangkabau melalui teknik suara dan sulam tradisional seperti suji caia. Uniknya, setiap gerakan menyulam diubah menjadi sinyal elektronik yang menghasilkan komposisi suara, menjadikan karya ini tidak hanya visual, tetapi juga auditori.

"Pamedangan itu sendiri adalah sebuah alat untuk menyulam tradisional dari Minangkabau. Jadi dari Pamedangan ini sendiri biasanya orang menyulam itu ada dua motif yang terkenal atau teknik yang terkenal itu sulam suji caia dan juga sulam dengan teknik cabuik banang gitu," ucap Rani. 

Selain pameran karya, IWA ke-4 juga diperkuat dengan pendekatan akademis melalui diskusi, kuliah umum, dan kajian seni. Hal ini memberikan ruang refleksi sekaligus memperkaya pemahaman publik terhadap kontribusi perempuan dalam seni rupa.

Apresiasi juga datang dari Redaktur Senior Harian Kompas, Ninuk Maridana Pambudy, yang menilai bahwa kualitas karya perupa perempuan Indonesia tidak kalah dengan seniman internasional. Ia mencontohkan sosok Astari yang karyanya telah dikoleksi secara global sebagai bukti nyata pengakuan dunia terhadap seniman perempuan Indonesia.

Pameran ini akan berlangsung hingga 30 Juni 2026, memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk menyaksikan langsung karya-karya yang merepresentasikan kekuatan, identitas, dan inovasi perempuan dalam seni rupa kontemporer.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Reno Panggalih Nuha Lathifah)