13 October 2026 13:04
Paparan kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) memicu krisis kesehatan serius di Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Akumulasi kasus Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) di wilayah tersebut kini melonjak tajam hingga melampaui angka 11 ribu kasus.
Kondisi memburuk ini tecermin dari lonjakan kunjungan pasien di Puskesmas Bukit Hindu, Palangka Raya. Dalam beberapa hari terakhir, rata-rata penderita ISPA yang datang berobat berkisar 20 orang per hari, bahkan sempat menyentuh angka 28 pasien dalam sehari.
Kepala Puskesmas Bukit Hindu Palangka Raya, Hellyana, mengonfirmasi adanya tren kenaikan pasien akibat kualitas udara yang kian menurun sejak awal bulan.
"Pekatnya kabut asap memang kita ada penambahan kasus beberapa hari ini, terutama di awal Oktober ini memang ada peningkatan. Sehari itu kita bisa sampai ada 22, karena di minggu kemarin itu bisa sampai 22," kata Hellyana dalam tayangan Metro Siang Metro TV, Selasa, 13 Oktober 2026.
Bencana asap di Kalimantan Tengah ini berbanding lurus dengan maraknya karhutla di wilayah lain. Di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, kebakaran perkebunan pinus di Desa Buntu Buddha dan Mambuliling bahkan telah menghanguskan ratusan hektare lahan selama tiga hari berturut-turut.
Kobaran api yang diduga dipicu aktivitas pembukaan lahan tersebut kini menjalar hingga berjarak beberapa meter dari rumah warga, sementara jalur terjal di atas bukit menyulitkan tim pemadam hingga warga harus memadamkan api secara manual.
Karhutla di Mamasa Dekati Permukiman Warga
Peristiwa kebakaran hebat melanda kawasan perkebunan pinus di Desa Buntubuda dan Desa Mambuliling, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat. Hingga hari ketiga, tim petugas bersama warga setempat terus berupaya memadamkan kobaran api yang memicu kabut asap pekat di wilayah sekitarnya.
Proses pemadaman menghadapi kendala berat akibat kondisi medan yang berada di atas bukit dengan jalur terjal serta sulit dijangkau kendaraan. Akibat keterbatasan akses tersebut, warga terpaksa turun tangan memadamkan api secara manual menggunakan dahan dan ranting pohon.
Situasi makin mengkhawatirkan karena pergerakan api terus menjalar hingga berjarak hanya beberapa meter dari permukiman warga. Berdasarkan dugaan sementara, timbulnya karhutla di kawasan ini bermula dari aktivitas pembukaan lahan untuk perkebunan.