Jakarta: Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia berdampak pada aktivitas penerbangan hingga kualitas udara negara tetangga. Dalam periode 11 Agustus hingga 9 Oktober 2026, sebanyak 1.673 penerbangan tercatat terdampak, sementara Malaysia melaporkan kualitas udara tidak sehat di puluhan wilayah.
Sumatera dan Kalimantan Jadi Wilayah dengan Kebakaran Terbesar
Berdasarkan data sebaran luas
lahan terbakar, Sumatera Selatan mencatat porsi terbesar, yakni 49%. Wilayah lain yang turut terdampak meliputi:
- Jambi: 22%
- Kalimantan Tengah: 11%
- Kalimantan Selatan: 8%
- Kalimantan Barat: 6%
- Riau: persentase lebih kecil
Jumlah titik panas juga meningkat dari 437 titik pada 9 Oktober menjadi 793 titik pada 10 Oktober 2026.
Sementara itu, data penanganan
karhutla di enam provinsi per 11 Oktober mencatat total 6.900 titik panas. Dalam 24 jam terakhir, luas lahan terbakar mencapai 568,63 hektare.
Ratusan Hektare Lahan Ditangani
Dari total 568,63 hektare lahan yang terbakar dalam 24 jam terakhir, tim penanganan telah menangani 451,39 hektare. Rinciannya sebagai berikut:
- Pemadaman darat: 427,39 hektare
- Pemadaman udara: 24 hektare
- Masih perlu dipadamkan: 117,24 hektare
Karhutla juga melanda sejumlah wilayah Sulawesi. Luas lahan terbakar yang tercatat di beberapa daerah meliputi 651 hektare di kaki Gunung Klabat, Sulawesi Utara, lebih dari 200 hektare di Mamasa, Sulawesi Barat, dan 330,33 hektare di Tana Toraja, Sulawesi Selatan.
Di Sulawesi Tengah,
kebakaran meluas ke Tojo Una-Una, Tolitoli, Buol, Banggai, dan Parigi Moutong. Sementara itu, di Sulawesi Tenggara, ribuan hektare lahan disebut telah ditangani.
Di Merauke, Papua Selatan, per 11 Oktober 2026,
karhutla dilaporkan berdampak pada 10 distrik. Sekitar 63 hektare lahan terbakar di sembilan lokasi, sedangkan luas kebakaran di Kampung Kondo masih didata; sejumlah titik api telah padam dan memasuki tahap pendinginan, tanpa laporan korban jiwa.
Sebanyak 1.673 Penerbangan Terdampak
Karhutla turut mengganggu jadwal penerbangan pada periode 11 Agustus hingga 9 Oktober 2026. Dampaknya meliputi pembatalan, penundaan, dan keterlambatan penerbangan di sejumlah maskapai.
Berikut rincian yang tercantum dalam data:
- Wings Air: 226 penerbangan dibatalkan atau ditunda
- Super Air Jet: 158 penerbangan dibatalkan atau ditunda
- Citilink: 115 penerbangan dibatalkan atau ditunda
- Citilink: 357 penerbangan mengalami keterlambatan
- NAM Air: 212 penerbangan mengalami keterlambatan
Maskapai lain yang juga disebut terdampak ialah Surya Mataram, Batik Air, Garuda Indonesia, TransNusa, Lion Air, dan Sriwijaya Air.
Kabut Asap Berdampak hingga Malaysia dan Singapura
Dampak karhutla juga dirasakan negara tetangga. Di Malaysia, Indeks Pencemaran Udara atau API di Kuala Lumpur mencapai 170, yang masuk kategori tidak sehat, sementara 37 wilayah melaporkan kualitas udara dalam kategori serupa.
Enam wilayah di Malaysia dilaporkan menutup sekolah, yakni Kuala Lumpur, Putrajaya, Melaka, Negeri Sembilan, Selangor, dan Pahang. Malaysia juga menawarkan bantuan kepada Indonesia untuk menangani dampak karhutla.
Sementara itu, Singapura mewaspadai penurunan kualitas udara akibat kabut asap. Pembagian masker N95 bagi warga terdampak menjadi salah satu langkah yang dapat dipicu jika indeks standar polutan atau PSI melampaui 200.
Selain mengganggu penerbangan dan kualitas udara, karhutla juga berdampak pada ekosistem gambut. Data yang diberikan mencatat perubahan kemampuan tanah gambut terdegradasi dalam menahan air sebesar 23,5% hingga 25%.
Temuan tersebut menunjukkan adanya perubahan karakteristik ekosistem gambut yang perlu diperhatikan dalam upaya penanganan dan pemulihan lahan terdampak.