8 September 2026 20:04
Aktivitas erupsi terus-menerus Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda dilaporkan mulai berakhir dan menunjukkan tren penurunan energi. Meski demikian, otoritas terkait menegaskan bahwa status gunung api tersebut masih berada pada level 3 atau Siaga.
PLT Kapusdatin BNPB, Berton SP Panjaitan, menyatakan bahwa berdasarkan data BMKG, sebaran abu vulkanik kini cenderung mengarah ke Samudra Hindia, menjauhi daratan wilayah Banten dan Lampung. Hingga saat ini, belum ada laporan mengenai korban jiwa maupun kerusakan bangunan yang serius akibat aktivitas vulkanik tersebut.
“Sepertinya energinya sudah mulai menurun. Kita berdoa bersama-sama energinya mulai menurun dan pada akhirnya nanti kembali normal. Kami berkoordinasi dengan BPBD di berbagai kabupaten dekat lokasi. Sejauh ini masyarakat sangat mematuhi anjuran tersebut. Belum ada laporan warga yang mendekat atau mengalami dampak negatif. Kami tetap mengimbau agar radius 3 km dijauhi oleh nelayan, pelancong, maupun pihak lainnya,” ujar Berton dalam dialog Primetime News Metro TV, Selasa, 8 Agustus 2026.
Pakar Vulkanologi ITB, Asep Saepuloh, memberikan peringatan khusus terkait karakteristik abu vulkanik Anak Krakatau. Ia menjelaskan bahwa debu tersebut mengandung partikel silika yang tajam menyerupai kaca berukuran mikro. Jika terhirup, partikel ini berisiko tinggi melukai organ pernapasan bagian dalam.
"Abu vulkanik magma ini sifatnya berupa gelas atau kaca dalam ukuran mikro. Jika terhirup ke pernapasan, pasti membahayakan karena bisa melukai organ tubuh bagian dalam. Sangat disarankan memakai masker dan mengurangi aktivitas di luar, terutama di daerah yang arah anginnya membawa debu tersebut,” tegas Prof. Asep.
Sementara itu, pakar vulkanologi ITERA, Happy Christin Natalia, menilai erupsi kecil bertipe Strombolian yang terjadi saat ini justru berdampak positif karena membantu melepaskan energi secara bertahap, sehingga memperkecil risiko letusan besar dalam waktu dekat.
“Kemungkinan erupsi di masa depan dengan intensitas yang sama itu masih tetap akan terjadi. Yang menjadi perhatian adalah ketika gunung ini memasuki fase istirahat yang cukup lama, di situlah biasanya potensi erupsi besar bisa terjadi di masa depan,” ujar Happy.