BMKG: Aktivitas Anak Krakatau Tak Timbulkan Anomali Ombak Selat Sunda

Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan. ANTARA/Riadi Gunawan

BMKG: Aktivitas Anak Krakatau Tak Timbulkan Anomali Ombak Selat Sunda

Achmad Zulfikar Fazli • 8 September 2026 19:34

Jakarta: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan hingga Selasa, 8 September 2026, aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau tidak memicu anomali gelombang laut di Selat Sunda. Pemantauan melalui 20 tsunami gauge dan HF Radar Array di kawasan Carita dan Tanjung Lesung mencatat probabilitas terjadinya tsunami berada pada kategori rendah di bawah 50 persen.

"Hingga pagi tadi, tidak terdeteksi anomali kenaikan tinggi muka air laut atau perubahan pola arus permukaan secara signifikan yang mengindikasikan akan terjadinya tsunami," kata Plh Deputi Bidang Geofisika BMKG Ardhasena Sopaheluwakan di Jakarta, dilansir dari Antara, Selasa, 8 September 2026.

Dia mengatakan tinggi gelombang di wilayah Selat Sunda masih dalam kondisi stabil dan diprakirakan berkisar 0,5 hingga 3 meter, dengan kondisi cuaca permukaan cenderung cerah hingga cerah berawan selama tujuh hari ke depan pada 8-13 September 2026.

Ilustrasi Gunung Anak Krakatau. Foto: dok. Antara

Selain memantau gelombang laut, BMKG melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membersihkan atmosfer dari paparan abu vulkanik.

Sebagaimana data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) per pukul 07.49 WIB, Gunung Anak Krakatau mencatatkan erupsi baru berkategori strombolian atau erupsi kecil dengan amplitudo maksimum 48 mm berdurasi 19 detik, disertai penurunan intensitas gangguan geomagnetik dan petir vulkanik.

Untuk mempercepat peluruhan material abu di udara, Ardhasena mengungkapkan BMKG bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengoperasikan lima sorti penerbangan OMC mengandalkan dua pesawat Cessna Caravan dari Posko Bandara Pondok Cabe dan Halim Perdanakusuma.

Selain itu, BMKG mengintervensi cuaca menggunakan satu sorti penyemaian bubuk garam (NaCl), satu sorti cairan CaCl2 sebagai inti kondensasi hujan, serta tiga sorti penyemprotan kabut air atau water mist langsung di atmosfer.

Namun, dia mengingatkan masyarakat di wilayah terdampak sebaran abu untuk tetap membatasi aktivitas di luar rumah. Masyarakat juga diwajibkan menggunakan masker dan kacamata pelindung guna mengantisipasi gangguan kesehatan.

(Achmad Zulfikar Fazli)