13 October 2026 18:53
Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mengepung wilayah Kalimantan Tengah selama lebih dari tiga bulan berada dalam kondisi yang kian memprihatinkan. Kualitas udara di Kota Palangka Raya memburuk secara drastis hingga melampaui ambang batas berbahaya dan mengancam kesehatan masyarakat.
Salah seorang warga Kalimantan Tengah, Akhmad Dhani, mengungkapkan bahwa penurunan kualitas udara terjadi secara terus-menerus sepanjang hari, mulai dari pagi hingga malam. Kondisi ini memaksa warga menghirup udara pekat beracun saat beraktivitas di luar rumah.
"Di mana kita melihat dari indikator ISPU atau Indeks Standar Pencemar Udara itu 1.000 ke atas, bahkan bisa menyentuh 4 ribu ketika asap sedang pekat-pekatnya, di mana indikator berbahaya itu 300, ini sudah jauh sekali melampaui 300 itu. Dan kami warga itu sangat merasakan asap yang pekat dan menyesakkan dada kami," tutur Akhmad Dhani dalam tayangan Metro Hari Ini Metro TV, Selasa, 13 Oktober 2026.
Sekolah Diliburkan dan Ribuan Warga Terjangkit ISPA
Dampak parah kabut asap membuat pemerintah daerah menetapkan kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi siswa PAUD, TK, SD, SMP, hingga SMA selama kurang lebih tiga bulan terakhir. Meski demikian, warga usia produktif tetap harus bekerja di luar ruangan demi memenuhi kebutuhan hidup harian.
Pemaparan partikel asap pekat secara terus-menerus memicu lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang menyerang ribuan warga di Kalimantan Tengah. Banyak warga mengeluhkan gejala sesak napas, pusing, tenggorokan sakit, hingga batuk kering, tetapi sebagian memilih menunda berobat ke fasilitas kesehatan karena harus tetap bekerja. Pembagian masker oleh pemerintah daerah serta bantuan medis seperti obat-obatan, oksigen, dan nebulizer dari relawan turut dikerahkan untuk membantu warga.
Selain menjadi warga terdampak, Akhmad Dhani yang aktif sebagai relawan logistik menceritakan beratnya perjuangan tim pemadam di lapangan. Lahan gambut yang terbakar menyimpan bara api di bawah permukaan tanah dan terus mengeluarkan asap meski titik api utama telah padam.
Di saat yang sama, titik-titik api baru terus bermunculan sehingga tidak seimbang dengan jumlah personel yang tersedia. Upaya pemadaman udara (water bombing) maupun teknologi modifikasi cuaca belum dapat direalisasikan akibat jarak pandang (visibilitas) di langit Kalimantan Tengah tertutup kabut asap pekat yang mengancam keselamatan penerbangan.
Desakan Evakuasi Kelompok Rentan
Menghadapi krisis kesehatan dan keselamatan yang semakin mengancam, warga mendorong pemerintah untuk lebih responsif dalam melakukan mitigasi bencana dan pencegahan karhutla secara konkret. Warga juga mendesak pemangku kebijakan agar segera mengambil langkah evakuasi bagi kelompok rentan serta warga yang tempat tinggalnya berada tepat di garis depan kebakaran.
"Harapan kami ke depan pihak pemerintah lebih responsif lagi, tidak hanya dalam hal penanganan tapi juga pencegahan, mitigasi bencana yang sangat konkret. Dan kami berharap untuk pemerintah segera mengevakuasi warga-warga yang rentan akibat kabut asap seperti ini, terutama di pusat kota dan lain-lain, yang di mana di sana ada kelompok seperti anak-anak bayi, anak-anak kecil, lansia, ibu-ibu hamil, ibu menyusui," tegas Akhmad Dhani.
Selain kelompok rentan, warga yang bermukim tepat di depan titik kebakaran hidup dalam kecemasan selama 24 jam penuh karena khawatir rumah mereka terlahap api sewaktu-waktu. Langkah evakuasi darurat diharapkan dapat segera dilaksanakan demi menjamin keselamatan jiwa masyarakat.