Bulan Ramadan kerap diidentikkan sebagai bulan penuh hikmah, magfirah, ampunan, dan keberkahan. Atmosfer spiritual ini tidak hanya terasa di masjid dan majelis taklim, tetapi juga membanjiri ruang digital.
Media sosial dipenuhi dengan konten yang mengajak umat Islam untuk berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat), memperbanyak amal, menghadiri kajian, hingga menuntaskan bacaan Al-Qur’an berkali-kali.
Namun, di tengah derasnya arus motivasi tersebut, tidak sedikit yang tanpa sadar mengalami fenomena FOMO (
fear of missing out), perasaan takut tertinggal dalam kebaikan. Seolah-olah menjadi pribadi yang religius harus diukur dari seberapa banyak kajian yang diikuti atau berapa kali khatam Al-Qur’an dalam satu bulan. Akibatnya, sebagian orang memaksakan diri melampaui kapasitasnya sendiri.
Padahal, dalam
ajaran Islam ditegaskan bahwa sebaik-baik amalan adalah yang dilakukan secara konsisten, meskipun sedikit. Semangat yang membara selama satu bulan, tetapi melemah pada sebelas bulan berikutnya, tentu bukan tujuan utama dari ibadah Ramadan.
Cara Menghindari Jebakan FOMO
Untuk menghindari jebakan FOMO dalam beribadah, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan.
- Pertama, meluruskan niat dan memastikan keikhlasan semata-mata karena Allah SWT, bukan demi pengakuan atau label sebagai pribadi yang saleh.
- Kedua, mengukur kapasitas diri secara realistis tanpa membandingkan diri dengan orang lain secara tidak proporsional. Perbandingan yang tidak “sepadan” hanya akan menimbulkan kelelahan fisik dan mental, bahkan bisa memunculkan rasa tidak cukup dalam beribadah.
- Ketiga, memahami bahwa esensi ibadah bukan terletak pada kuantitas semata, melainkan kualitas dan dampaknya. Beramal banyak memang baik, tetapi Islam lebih menekankan pada amal saleh, amal yang dilakukan dengan benar, ikhlas, dan memberi manfaat bagi sesama.
Berbeda dengan doa yang dianjurkan untuk diperbanyak dalam berbagai bentuk dan kesempatan, amal menuntut kualitas serta kesungguhan. Bahkan dalam sebuah ajaran disebutkan, ketika seseorang tidak memiliki harta untuk disedekahkan, senyum pun dapat bernilai sebagai amal. Pesan ini menegaskan bahwa setiap orang memiliki ruang kebaikan sesuai kemampuannya.
Ramadan sejatinya menjadi momentum membangun kebiasaan baik yang berkelanjutan, bukan sekadar euforia sesaat. Dengan memahami kapasitas diri dan menjaga keikhlasan, ibadah yang dilakukan tidak hanya berdampak pada diri sendiri, tetapi juga memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Jangan lupa saksikan
MTVN Lens lainnya hanya di Metrotvnews.com