Suasana Haru Selimuti Jemaah Multazam Utama saat Tawaf Ifadah di Masjidil Haram

29 May 2026 12:20

Suasana haru dan penuh syukur menyelimuti jemaah haji khusus Multazam Utama saat melaksanakan Tawaf Ifadah di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi. Meski fisik terkuras usai menjalani rangkaian puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina, para jemaah justru diliputi rasa sedih karena menyadari perjalanan spiritual mereka di Tanah Suci akan segera berakhir.

Sejak bakda subuh, para jemaah telah bersiap menuju Masjidil Haram untuk memanfaatkan suasana pagi yang masih teduh agar ibadah dapat berjalan lebih nyaman dan khusyuk. Berbeda dengan tawaf-tawaf sebelumnya, pada momen Tawaf Ifadah ini jemaah sudah diperbolehkan mengenakan pakaian bebas dan tidak lagi mengenakan pakaian ihram.

Bagi jemaah Multazam Utama, Tawaf Ifadah bukan sekadar menjalankan rukun haji yang tidak boleh ditinggalkan, melainkan juga menjadi momen refleksi mendalam. Isak tangis dan rasa haru pecah saat para jemaah berjalan mengelilingi Kakbah sembari memanjatkan doa serta zikir.

"Rasa sedih muncul karena kita akan meninggalkan Tanah Suci, namun di sisi lain ada tantangan bagaimana cara kita mempertahankan kemabruran setelah ini," ungkap salah satu jemaah haji Multazam Utama, Hekal yang dikutip Perjalanan Suci pada Jumat 29 Mei 2026.
 

Baca juga: Mengenal Hari Tasyrik dan Tawaf Wada dalam Rangkaian Ibadah Haji

Selain ungkapan syukur atas karunia bisa berhaji tahun ini, para jemaah juga menyelipkan doa bagi keluarga dan kerabat mereka agar dimampukan oleh Allah untuk berkunjung ke Baitullah di masa depan. 

"Harapannya kami ingin kembali lagi ke sini untuk ziarah, tawaf, dan sai, mungkin nanti bersama keluarga kami," ujar Meka, jemaah lainnya.

Setelah menuntaskan tujuh putaran Tawaf Ifadah, jemaah langsung melanjutkan prosesi dengan Sai sebagai bagian dari penyempurnaan rangkaian ibadah haji. Meski lelah usai menjalani wukuf, mabit, dan lempar jumroh, semangat jemaah tetap terjaga demi menyelesaikan seluruh rukun haji dengan sempurna.

Momen ini menjadi pengingat bagi seluruh jemaah bahwa meski perjalanan di Makkah akan berakhir, nilai-nilai ibadah dan kenangan spiritual yang didapat diharapkan terus melekat dalam kehidupan sehari-hari saat kembali ke Tanah Air.

(Anggie Meidyana)