Kronologi Tewasnya Siswa SMK di Samarinda Diduga Karena Sepatu Sempit

6 May 2026 16:32

Sebuah kisah memilukan datang dari Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Mandala Risky Syaputra, seorang siswa kelas 11 Pemasaran 2 di SMK Negeri 4 Samarinda, meninggal dunia pada 24 April 2026. Mandala menghembuskan napas terakhirnya setelah berjuang menahan rasa sakit yang bermula dari hal sederhana: sepatu sekolah yang sudah tidak muat namun tetap dipaksakan demi tidak merepotkan orang tuanya.

Mandala dikenal sebagai sosok anak yang pendiam, tegar, dan sangat berbakti kepada ibunya, Ratnasari. Karena keterbatasan ekonomi, Mandala terus mengenakan sepatu yang sudah kekecilan sejak ia duduk di kelas 1 SMK. Rasa sakit yang awalnya hanya terasa pegal di bagian jari-jari kaki, perlahan menjalar menjadi nyeri hebat hingga ke punggung dan pinggang.

Bahkan saat menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) yang mengharuskannya berdiri seharian, Mandala tetap tidak mengeluh. Untuk menyiasati rasa sakitnya, ia sempat mengganjal ujung jari kakinya dengan busa pembungkus buah agar terasa lebih lembut saat memakai sepatu sempit tersebut.

Berdasarkan data dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Timur, kondisi kesehatan Mandala mulai menurun drastis pada awal April 2026. Pada 20 April, Mandala sempat mengirimkan foto kondisi kakinya yang sudah membengkak kepada pihak sekolah untuk meminta bantuan.

Pihak sekolah sebenarnya telah berupaya memberikan bantuan pengobatan dan bantuan dana. Namun, akses layanan kesehatan yang lebih menyeluruh terhambat karena status BPJS yang tidak aktif. Saat ibunya sempat mengajak ke rumah sakit, Mandala menolak dengan alasan tidak ingin membebani biaya hidup keluarga.

"Jangan Bu, untuk hidup kita saja susah, makan pun satu hari sekali, bagaimana Ibu bisa mengupayakan biaya pengobatan?" ungkap Ketua Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA) Kaltim, Rina Zainun, menirukan ucapan Risky yang dikutip Selamat Pagi Indonesia, Rabu 6 Mei 2026.
 

Baca juga: Darurat Ruang Aman Anak, Mengupas Skandal Kekerasan di Daycare

Keinginan Terakhir yang Tak Terwujud

Malam sebelum meninggal dunia, terjadi percakapan menyayat hati antara Mandala dan ibunya. Mandala sempat mengutarakan keinginannya untuk memiliki sepatu baru agar bisa kembali bersekolah. Namun, menyadari kondisi keuangan ibunya yang hanya bekerja sebagai penjual risol keliling, ia langsung mengurungkan niatnya.

"Ibu belum punya uang," jawab sang ibu saat itu. Mandala kemudian menanggapi dengan kalimat yang menjadi kenangan terakhir bagi sang ibu, "Oh iya Bu, Mandala lupa ya kalau Mandala ini anak yatim". Tak lama setelah percakapan itu, pada dini hari 24 April, Mandala ditemukan sudah tidak bernyawa di tempat tidurnya.

Rina Zainun, menyayangkan adanya hambatan birokrasi dan ketidaktahuan warga pendatang mengenai akses bantuan sosial di lingkungan setempat. Mandala dan keluarganya merupakan warga baru yang menyewa rumah sehingga tidak terdata dalam bantuan RT/RW setempat.

Saat ini, fokus utama tim TRC PPA Kaltim adalah memulihkan kondisi psikis sang ibu yang mengalami guncangan akibat kepergian anaknya serta hujatan dari beberapa pihak di media sosial.

"Penyesalan terbesar ibunya adalah tidak bisa memenuhi keinginan anaknya untuk menggunakan sepatu baru," ujar Rina.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Anggie Meidyana)