Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang mengangkut 11 orang dilaporkan hilang kontak di kawasan Maros, Sulawesi Selatan, pada Sabtu, 17 Januari 2026. Pesawat rute Yogyakarta-Makassar ini terakhir terlihat pada koordinat 04°57’08” LS dan 119°42’54” BT sebelum dinyatakan hilang saat melakukan manuver pendekatan.
Menanggapi insiden tersebut, Pilot senior Kapten Hanafi Herlim menekankan pentingnya batasan jarak pandang atau visibility sebagai panduan utama keselamatan bagi seorang pilot. Menurutnya, pilot tidak diperkenankan terbang lebih rendah jika kondisi jarak pandang berada di bawah batas minimal demi menghindari risiko kecelakaan.
"Jadi kalau visibility-nya memang sudah rendah, itu memang tidak diperkenankan bagi kita untuk terbang lebih rendah karena itu faktor keselamatan yang mana visibility itu menjadi panduan bagi seorang pilot," ujar Hanafi Herlim dalam program Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Selasa, 20 Januari 2026.
Hanafi menjelaskan bahwa sebelum terbang, setiap pilot telah dibekali data cuaca aktual dari BMKG sebagai panduan persiapan mendarat di bandara tujuan. Ia juga menambahkan bahwa hilangnya kontak mengindikasikan adanya gangguan serius, karena komunikasi antara pilot dan menara pengawas terputus secara tiba-tiba.
Terkait penyebab pasti jatuhnya pesawat di medan berat tersebut, ia mengimbau masyarakat untuk tidak membangun asumsi sepihak sebelum hasil investigasi resmi keluar. Fakta sesungguhnya hanya dapat terungkap melalui pembukaan data kotak hitam atau
black box, serta rekaman percakapan terakhir di ruang kokpit.
Sebelumnya, pesawat ATR 42-500 registrasi PK-THT yang dioperasikan Indonesia Air Transport dilaporkan hilang kontak pada Sabtu, 17 Januari 2026, di sekitar kawasan Leang-leang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, saat hendak mendarat di Bandara Hasanuddin, Makassar.
Pesawat tersebut mengangkut 11 orang yang terdiri atas tujuh kru dan tiga penumpang. Hingga kini, tim SAR gabungan telah menemukan sejumlah serpihan pesawat serta satu jenazah korban yang masih dalam proses identifikasi.
Proses evakuasi masih terkendala cuaca buruk dan medan ekstrem di kawasan Gunung Bulusaraung sehingga memerlukan upaya ekstra dari tim di lapangan.
(Aulia Rahmani Hanifa)