14 October 2026 15:42
Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kota Palangka Raya selama lebih dari tiga bulan tidak hanya memicu krisis kesehatan, tetapi juga menghantam keras perekonomian warga, khususnya masyarakat kelas menengah ke bawah. Penurunan pendapatan, kenaikan harga bahan pokok, hingga terhentinya operasional bandara kini menekan kehidupan masyarakat yang menggantungkan nasib pada penghasilan harian.
Di tengah kualitas udara berstatus berbahaya dan paparan asap tebal yang mengubah warna langit menjadi kuning hingga oranye pekat dengan jarak pandang di bawah 500 meter, para pedagang kecil terpaksa tetap membuka lapaknya. Bagi mereka, tidak ada pilihan lain selain terus bekerja di luar rumah demi menyambung hidup keluarga.
Arjuna, seorang pedagang warung di Palangka Raya, mengaku terpaksa mengabaikan kekhawatirannya terhadap ancaman bahaya kesehatan demi membiayai kebutuhan pokok.
"Karena faktor ekonomi. Cari uang buat makan anak istri. Ya sebenarnya takut sih. Oleh karena apa ya, kita kan meskipun kayak gini makan kan enggak berhenti, jadi harus tetap cari uang," tutur Arjuna dalam tayangan Breaking News Metro TV, Rabu, 14 Oktober 2026.
Ia menyayangkan ketiadaan kebijakan tegas dari pemerintah untuk menghentikan pembakaran hutan dan berharap segera turun hujan deras untuk melenyapkan asap.
Harga Bahan Pokok Naik, Omzet UMKM Anjlok
Tekanan ekonomi serupa juga dialami para pelaku usaha kuliner terbuka, seperti Rumah Makan Marajaki Palangka Raya. Karyawan rumah makan tersebut, Olan, mengungkapkan bahwa kepungan asap yang kian parah dalam beberapa hari terakhir berdampak langsung pada kelangsungan usaha pedagang.
"Dampaknya itu kan jangka panjang kayak ke orang-orang pelaku usaha kayak kita pedagang segala macam tuh, karena yang terpengaruh itu bukan cuma kesehatan tapi harga-harga naik, pokoknya akhirnya semuanya juga pendapatan kita juga turun," ujar Olan.
Melihat kondisi yang semakin memburuk, Olan mendesak pemerintah untuk tidak menutup mata terhadap krisis ekonomi warga maupun kerusakan ekosistem.
"Harapannya mungkin untuk pemerintah-pemerintah yang terhormat, jangan menutup mata, jangan denial bahwa keadaan kita dan kita benar-benar semua mungkin ekonomi sulit. Tolong gunakan amanah yang kita berikan kepada pemerintah-pemerintah untuk membuka mata sama-sama berbenah diri," tegas Olan.
Kasus ISPA Tembus 11 Ribu
Dampak ekonomi ini semakin diperparah oleh enggannya masyarakat keluar rumah akibat pekatnya polusi, yang berujung pada sepinya pembeli. Selain itu, terbatasnya jarak pandang juga melumpuhkan moda transportasi darat dan memicu penutupan operasional bandara di Palangka Raya.
Jurnalis Metro TV, Joy Jones, melaporkan bahwa kelumpuhan ekonomi ini berjalan seiring dengan melonjaknya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang kini telah menembus lebih dari 11 ribu kasus.
"Kondisi yang sangat buruk udaranya mengakibatkan banyak masyarakat juga yang enggan untuk keluar sehingga aktivitas perekonomian masyarakat sangat terganggu, terutama masyarakat di kalangan menengah ke bawah yang bergantung hidupnya pada pendapatan harian mereka," terang Joy Jones.