Kawasan jantung ibu kota, Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, bersinar terang oleh ornamen dan cahaya bernuansa Buddhis. Untuk pertama kalinya, perayaan Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 Buddhis Era (BE)/2026 digelar secara masif di ruang publik kebanggaan warga Jakarta.
Acara ini tidak hanya menjadi momen spiritual yang khidmat bagi umat Buddha, tetapi juga menjelma sebagai etalase harmoni dan kuatnya toleransi di tengah keberagaman warga Jakarta. Kemeriahan ini turut menarik perhatian luas, mulai dari warga lokal hingga wisatawan mancanegara.
Penyelenggaraan Waisak di ruang publik ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) dengan organisasi keagamaan Buddha, yakni Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) dan Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi).
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, menegaskan bahwa perayaan ini merupakan simbol bahwa Jakarta terus berupaya menjadi kota yang damai dan merangkul seluruh golongan tanpa terkecuali.
"Sekarang pesan utamanya adalah kita bisa menampilkan kebersamaan di tengah kota. Inilah kenapa keluar tagline 'Jaga Jakarta', karena Jakarta itu milik kita bersama. Siapa pun punya tanggung jawab untuk menjaganya," kata Rano Karno dikutip dari Metro Siang, Metro TV, Minggu 31 Mei 2026.
Dongkrak Ekonomi hingga Rp67 Triliun
Selain menonjolkan nilai kebersamaan, Rano Karno juga menyoroti dampak positif dari pengemasan perayaan hari besar keagamaan di ibu kota terhadap sektor ekonomi. Ia memaparkan bahwa rangkaian perayaan sejak Desember (Natal) hingga Idulfitri telah memutar roda ekonomi Jakarta secara signifikan, dan perayaan Waisak ini menjadi kelanjutan dari momentum tersebut.
"Kalau kita hitung dari mulai Desember sampai ke Lebaran (Maret), itu perputaran ekonomi di Jakarta sampai Rp67 triliun. Itu mengindikasikan bahwa sebuah kegiatan kalau dikemas dengan baik akan menghasilkan sesuatu. Ini akan menjadi format baku, bulan-bulan keagamaan harus dikemas secara baik karena di sinilah inti kebersamaan Jakarta," papar Rano.
Pesan Damai di Tengah Konflik Global
Sementara itu, Ketua Umum Permabudhi, Philip Kuntjoro Wijaya, menilai bahwa izin penyelenggaraan Waisak di Bundaran HI membuktikan tingginya tingkat toleransi di ibu kota. Di tengah kondisi dunia yang sedang dilanda berbagai konflik bersenjata, Waisak tahun ini membawa pesan kuat mengenai pentingnya perdamaian.
"Kita ingin menunjukkan sesuatu yang berupa doa dan harapan, karena saat ini dunia juga tidak sedang baik-baik saja. Kita lihat banyak sengketa dan konflik terjadi belakangan ini demi kepentingan kelompok. Nah, kita ingin ada kesadaran manusia yang lebih tinggi, bahwa penderitaan ini bisa dikurangi. Kita bisa hidup di kondisi yang lebih damai dan rukun," ungkap Philip.
Philip juga menyambut baik ruang berekspresi ini sebagai sarana edukasi kepada masyarakat luas mengenai makna Tri Suci Waisak yakni memperingati hari kelahiran, pencapaian pencerahan sempurna, hingga mangkatnya Sang Buddha, Siddharta Gautama.
"Kita ingin menyelenggarakan ini untuk sesuatu yang peaceful, yang damai. Dan kita ingin, seperti yang biasa kita sampaikan, semoga semua makhluk berbahagia itu bisa benar-benar terjadi di dunia ini," pungkasnya.
Perayaan Waisak 2026 di Bundaran HI ini membuktikan bahwa Jakarta bukan sekadar pusat bisnis, melainkan sebuah kota global yang harmonis, toleran, dan terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat.