Lorong Lampion dan Miniatur Borobudur Hiasi Waisak di Bundaran HI

Lorong lampion yang dipajang di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, menjadi magnet masyarakat selama momentum perayaan Hari Raya Waisak 2570 Buddhist Era (BE). Foto: Metro TV/M Alvi Randa.

Lorong Lampion dan Miniatur Borobudur Hiasi Waisak di Bundaran HI

Muhammad Alvi Randa • 31 May 2026 17:14

Jakarta: Beragam instalasi tematik bernuansa Buddhis yang dipajang di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, sukses menjadi magnet bagi masyarakat selama momentum perayaan Hari Raya Waisak 2570 Buddhist Era (BE). Spot lorong lampion serta miniatur Candi Borobudur menjadi wahana ikonik yang paling banyak diburu pengunjung untuk berswafoto.

Perayaan Waisak 2570 BE ini menjadi catatan sejarah lantaran untuk pertama kalinya digelar di ruang publik terbuka kawasan Bundaran HI, mulai 28 Mei hingga 1 Juni 2026. Melalui Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta sengaja menghadirkan pameran instalasi keagamaan ini sebagai sarana edukasi sekaligus ruang bagi masyarakat untuk menikmati keberagaman budaya tradisi di Indonesia.
 


Salah satu pengunjung asal Bangka Belitung, Rian Saputra, 24, mengaku sengaja menyambangi Bundaran HI setelah melihat potongan video estetik perayaan tersebut yang viral di lini masa media sosial.

"Kalau untuk acara seperti ini sebelumnya saya belum tahu. Tapi setelah lihat di TikTok karena ramai, jadi saya antusias ingin datang langsung ke sini," kata Rian kepada Metrotvnews.com di lokasi, Sabtu, 31 Mei 2026.

Menurut Rian, kehadiran ragam dekorasi di jantung ibu kota ini memberikan atmosfer baru yang sangat memikat. Dari sekian banyak sudut dekorasi, ia menilai replika situs warisan dunia dan lorong penuh lampu menjadi area yang paling estetik.

"Kalau menurut saya yang bagus itu miniatur Candi Borobudur, patung Buddha, dan lorong lampion," ujar Rian.


Miniatur Candi Borobudur di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, menjadi magnet masyarakat selama momentum perayaan Hari Raya Waisak 2570 Buddhist Era (BE). Foto: Metro TV/M Alvi Randa.

Pria perantauan ini menambahkan, dirinya sengaja meluangkan waktu sejak sore hari demi bisa menikmati transisi visual di kawasan tersebut. Ia penasaran ingin menyaksikan langsung keindahan pendaran cahaya dari deretan lampion gantung saat malam mulai membayang.

"Karena katanya kalau malam lampu-lampunya bagus, jadi penasaran ingin mau melihat langsung suasananya di sini," tutur Rian.

Selain sukses menjadi daya tarik visual, hadirnya ruang interaksi budaya bertema Buddhis di salah satu ikon Jakarta ini juga dinilai efektif mempererat nilai toleransi. Kehadiran dekorasi religi ini memberikan kesempatan inklusif bagi masyarakat lintas kalangan untuk mengenal lebih dekat makna kesucian perayaan Waisak di tengah keterbukaan ruang publik perkotaan.

(Fachri Audhia Hafiez)