Jakarta: TPST Bantar Gebang sudah penuh dan mulai Agustus 2026 sampah campur ditolak. Bayangin, setiap hari ribuan truk masuk ke satu tempat yang sama dari pagi sampai tengah malam membawa sisa makanan, plastik, popok, sofa rusak, bangkai tikus, sampai limbah rumah tangga ini dari jutaan orang. Nah semua ini menuju satu lokasi, TPST Bantar Gebang.
TPST Bantar Gebang 'perut' sampah Jakarta
Tempat yang selama puluhan tahun ini menjadi perut Jakarta. Tapi sekarang perut ini sudah mulai penuh dan pemerintah akhirnya bilang mulai Agustus 2026, Bantar Gebang tidak lagi menerima
sampah campur, yang boleh masuk hanya sampah residu. Artinya sampah yang memang sudah tidak bisa didaur ulang lagi.
Kalau aturan ini benar-benar diterapkan ini berarti satu hal. Cara warga Jakarta membuang sampah harus berubah total. Karena selama ini sebagian besar dari kita masih buang sampah dengan satu gerakan yang sama. Campur, buang,
done, selesai. Padahal untuk Bantar Gebang masalahnya tidak pernah sesederhana ini. Segunung sampah setiap hari, jadi Bantar Gebang menerima sekitar 7.000 sampai 7.500 ton sampah setiap hari.
Ini setara dengan berat lebih dari 30 pesawat Boeing 747 dalam kondisi penuh atau sekitar 1.200 truk sampah yang keluar masuk setiap hari. Dan angka ini terus naik dari tahun ke tahun. Pada akhir 1980-an volume sampah yang masuk ini masih jauh lebih kecil dibandingkan hari ini. Lalu Jakarta tumbuh, mal bertambah, apartemen bertambah, layanan online atau pesanan online bertambah, makanan instan bertambah, sampah juga ikut meledak. Bahkan jumlah truk sampah yang masuk meningkat dari sekitar 778 truk per hari pada 2013, ini menjadi lebih dari 1.200 truk per hari beberapa tahun setelahnya. Masalahnya, luas lahannya tidak ikut bertambah.
Jadi gunungan sampah di Bantar Gebang sekarang disebut sudah mencapai lebih dari 50 meter, kurang lebih setinggi gedung belasan lantai dan ketika hujan deras datang, gunung ini bisa longsor karena pada akhirnya sampah yang terus ditumpuk tetap mengikuti hukum grafitasi.
Kemana sampah itu pergi?
Tapi sebenarnya, kemana sampah itu pergi selama ini? Bagaimana sampah diolah di sana? Kita sering fikir sampah ini sebenarnya hilang, padahal tidak. Sampah cuma pindah lokasi saja.
Kalau dalam sistem lama di Bantar Gebang, sebagian besar sampah selama bertahun-tahun diproses dengan metode
landfill alias ditimbun. Sampahnya diratakan, dipadatkan pakai alat berat, lalu ditumpuk lagi dengan sampah baru.
Masalahnya metode ini menghasilkan efek samping yang besar. Karena sampah organik terutama sisa makanan akan membusuk tanpa oksigen dan proses ini menghasilkan gas metana. Gas yang tidak berwarna tapi sangat berbahaya. Metana adalah gas rumah kaca yang jauh lebih kuat dibandingkan karbon dioksida dalam memerangkap panas dan tempat pembuangan sampah besar adalah salah satu penghasil metana terbesar di dunia.
Untuk Bantar Gebang, produksi gas ini terus terjadi dalam jumlah besar karena komposisi sampah didominasi limbah makanan dan organik. Jadi gas ini bisa menyebabkan bom nengat, polusi udara, risiko kebakaran, bahkan ledakan kalau terakumulasi.
Dari gunungan sampah menjadi energi
Karena volume sampah Jakarta sangat besar, Bantar Gebang sering disebut sebagai salah satu lokasi penghasil gas metana terbesar dari sektor sampah di Indonesia. Ironisnya, gas yang berbahaya ini juga sebenarnya bisa dimanfaatkan. Di banyak negara ternyata metana dari landfill ditangkap untuk menjadikan listrik atau bahan bakar. Karena itu sekarang Bantar Gebang mulai mengubah sistemnya dari gunung sampah menjadi bahan bakar. Salah satu proyek yang sedang dijalankan adalah namanya RDF Plan atau Refuse Derived Fuel.
Sederhananya adalah nanti sampahnya dipilih, terus dikeringkan, dan diubah menjadi bahan bakar alternatif untuk industri seperti pabrik semen. Pemprov DKI menyebut fasilitas RDF di Bantar Gebang dirancang mengolah ribuan ton sampah, termasuk sampah lama, yang sudah menggunung bertahun-tahun. Selain itu pemerintah juga mulai mendorong pembangunan PLTSA, Pembangkit Listrik Tenaga Sampah.
Targetnya jelas mengurangi ketergantungan pada sistem buang timbun, karena kalau tidak Bantar Gebang ini akan benar-benar kehabisan ruang. Inilah kemudian kenapa sampah campur akan ditolak mulai 1 Agustus nanti, Bantar Gebang hanya akan menerima sampah residu. Artinya, sampah organik harus dipisah dari rumah mulai Agustus nanti.
Kita harus belajar, dipaksa belajar sebenarnya. Plastik yang masih bisa didaur ulang jangan ikut dibuang. Dari rumah tangga nanti akan didorong memilah sampah sejak awal, karena kalau semua masih dicampur tidak ada teknologi yang cukup cepat untuk mengejar volume sampah Jakarta.
Sebenarnya krisis Bantar Gebang ini bukan cuma soal Bekasi, ini juga soal cara hidup kota besar modern. Kita membeli lebih banyak, mengonsumsi lebih cepat, menghasilkan lebih banyak sampah. Tapi selama puluhan tahun kita jarang benar-benar memikirkan sebenarnya sampah ini setelah dibuang sampahnya kemana.
Mulai Agustus apa yang berubah?
Jadi mulai Agustus 2026 nanti akan diubah, jadi sudah mulai bukan hanya soal plastik atau kertas kayak yang biasa kita tahu, tapi sudah akan ada plastik, kardus, botol, kaleng dipisah, sisa makanannya dipisah, kemudian juga residunya juga dipisah. Dan kalau kita bisa bergeser ke sebelah sini untuk organik nanti tidak langsung atau sampah organik tidak lagi langsung, sampah organik akan diarahkan untuk dijadikan kompos, kemudian juga untuk maggot, kemudian juga biodigester, dan pengolahan energi dan gas metana. Jadi diharapkan benar-benar nanti dipisah pengolahan ini dan bisa mengurai pengolahan atau juga cara sistem pengolahan sampah yang baru.
Bantar Gebang memang mulai penuh, tapi justru dari krisis ini Jakarta mulai dipaksa untuk berubah dari sekedar buang dan timbun sampah menjadi memilah dan mengolahnya kembali. Teknologi RDF mulai dibangun, gas metana juga mulai dimanfaatkan, dan sampah perlahan mulai dilihat sebagai sumber energi, karena masa depan kota besar bukan ditentukan oleh seberapa cepat membuang sampahnya, tapi seberapa cerdas untuk mengolahnya. Setuju ya? Kita setuju.
Sumber: Redaksi Metro TV