Jakarta: Pernah merasa setelah menonton satu video di media sosial, konten yang muncul berikutnya terasa semakin mirip dan berulang? Fenomena ini bukan kebetulan, melainkan hasil kerja algoritma media sosial yang dirancang untuk mempelajari perilaku penggunanya.
Cara Kerja Algoritma
Algoritma media sosial merupakan sistem berbasis
kecerdasan buatan (AI) yang bertugas menentukan konten apa saja yang muncul di beranda pengguna. Menurut penjelasan Meta dalam Transparency Center, algoritma bekerja dengan menganalisis berbagai sinyal interaksi pengguna, mulai dari video yang ditonton hingga selesai, konten yang disukai, dikomentari, dibagikan, hingga akun yang sering dikunjungi.
Pakar literasi digital dari
Massachusetts Institute of Technology (MIT), Sinan Aral, menjelaskan bahwa algoritma belajar dari pola kebiasaan pengguna.
“Semakin sering seseorang berinteraksi dengan satu jenis konten, semakin besar kemungkinan sistem menganggap konten tersebut relevan dan terus menampilkannya,” ujar Sinan dikutip dari laman resmi MIT.
Akibatnya, pengguna dapat terjebak dalam kondisi yang dikenal sebagai filter bubble. Menurut laporan
Digital News Report dari
Reuters Institute, filter bubble membuat seseorang lebih sering terpapar pada sudut pandang yang sama, sementara perspektif lain semakin jarang muncul. Kondisi ini dapat memengaruhi cara pandang, opini, bahkan keputusan sosial dan politik pengguna.
Meski kerap dianggap “mengatur” pengguna, algoritma sejatinya tidak memiliki niat baik atau buruk. Peneliti etika teknologi dari
University of Oxford, Luciano Floridi, menegaskan bahwa tujuan utama algoritma adalah meningkatkan durasi keterlibatan pengguna di dalam platform.
“Semakin lama pengguna bertahan, semakin besar nilai ekonomi platform,” ujar Luciano.
Para ahli menilai, kunci menghadapi
algoritma bukan dengan berhenti menggunakan media sosial, melainkan dengan meningkatkan kesadaran digital. Pengguna disarankan lebih selektif dalam berinteraksi dengan konten, tidak sembarang memberi tanda suka, serta secara aktif mencari informasi dari sudut pandang berbeda.
Dengan memahami cara kerja algoritma, masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi penikmat konten pasif, tetapi juga pengguna yang mampu mengendalikan pengalaman digitalnya sendiri. Karena di ruang digital, pilihan kecil seperti menonton, menyukai, atau melewatkan konten dapat membentuk apa yang kita lihat setiap hari.
Jangan lupa saksikan
MTVN Lens lainnya hanya di
Metrotvnews.com.
(Calista Vanis)