30 August 2026 00:29
Sikka: Sepekan setelah gempa magnitudo 7,7 mengguncang Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), bantuan kemanusiaan terus berdatangan untuk para penyintas. Namun, di balik derasnya bantuan yang mengalir dari berbagai penjuru, masih ada warga yang harus menunggu berhari-hari hanya untuk mendapatkan kebutuhan dasar.
Desa Nitung Lea, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, menjadi salah satu wilayah yang merasakan sulitnya akses bantuan. Desa yang berada di ujung wilayah Palue itu sempat terisolasi akibat longsoran yang menutup sejumlah titik jalan.
Untuk mencapai Palue dari Maumere, bantuan harus menempuh perjalanan laut dengan kondisi cuaca yang dinamis. Setibanya di Palue, perjalanan belum selesai. Bantuan masih harus melewati jalur darat yang sebelumnya tertutup material longsor.
Kondisi tersebut membuat distribusi bantuan sempat tersendat. Dari delapan desa di Pulau Palue, hanya dua desa yang dapat diakses pada hari-hari awal setelah gempa. Enam desa lainnya harus menunggu pembukaan jalur menggunakan alat berat.
Salah satu warga sekaligus sopir, Rinto, masih mengingat betul saat longsor terjadi. Batu-batu besar dan tanah dari lereng gunung tiba-tiba meluncur ke jalan yang dilaluinya.
“Kalau kena itu, mati deh kita,” ujar Rinto, mengenang kejadian tersebut, dikutip dari tayangan Special Report Metro TV, Sabtu 29 Agustus 2026.
Mobil yang dikendarainya menjadi salah satu kendaraan yang berhasil selamat dari longsoran. Peristiwa itu meninggalkan trauma bagi Rinto, terlebih karena wilayah yang dilaluinya masih berada di kawasan rawan bencana.
Upaya membuka akses terus dilakukan. Di sepanjang jalur menuju Desa Nitung Lea, sejumlah alat berat dikerahkan untuk membersihkan material longsor. BPJN NTT mencatat terdapat sekitar sepuluh titik longsor dari Desa Rokirole hingga Nitung Lea.
Pengerjaan dilakukan selama lima hari. Setelah jalur kembali terbuka, mobilisasi kebutuhan warga dan hasil bumi menuju pesisir mulai berjalan lebih lancar.
Meski demikian, ancaman belum sepenuhnya berakhir. Gempa susulan masih membuat material berupa batu, pasir, dan kerikil berpotensi kembali jatuh. Alat berat pun masih disiagakan untuk mengantisipasi longsor susulan.
Bagi warga Nitung Lea, terbukanya jalan menjadi kabar baik. Sebab, bantuan kemanusiaan akhirnya bisa masuk ke desa mereka setelah beberapa hari menunggu.
Pater Vande Raring SVD menjadi salah satu pihak yang membantu memastikan bantuan dibagikan sesuai kebutuhan warga. Ia membawa daftar penerima dari tiga dusun di Desa Nitung Lea.
Beras dan air minum menjadi kebutuhan paling mendesak. Kebutuhan tersebut diberikan berdasarkan permintaan langsung masyarakat.
“Bantuan kemanusiaan pertama masuk di Desa Nitung Lea ini,” kata Pater Vande.
Ia mengatakan pendataan dilakukan agar bantuan dapat dibagikan secara adil dan tidak ada warga yang terlewat.
“Supaya demi rasa keadilan kami harus punya data yang valid supaya tidak ada yang dilupakan, tidak ada yang diabaikan,” ujarnya.
Bagi warga, bantuan sederhana seperti beras, air minum hingga pembalut memiliki arti besar. Sejumlah perempuan bahkan harus berjalan kaki sekitar 30 menit dari dusun di lereng Gunung Rokatenda untuk mengambil bantuan.
Kini, akses ke seluruh desa di Palue disebut telah kembali terbuka. Namun, terbukanya jalan bukan berarti perjuangan telah selesai.
Gempa mungkin telah berlalu, tetapi pekerjaan untuk memulihkan kehidupan warga masih panjang. Infrastruktur harus dibenahi, jalur distribusi harus diperkuat, dan masyarakat harus kembali membangun kehidupan di tengah ancaman bencana.
Dari laut yang harus diarungi, jalan yang tertutup longsor, hingga langkah warga yang berjalan kaki mengambil bantuan, semuanya menjadi bagian dari perjuangan Nusa Nipa (nama asli Pulau Flores dalam tradisi lokal) untuk bangkit.