29 August 2026 21:23
Sikka: Krisis air bersih pascagempa membuat warga Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), terpaksa mengandalkan air hasil pengembunan uap panas bumi Gunung Rokatenda untuk kebutuhan sehari-hari.
Lebih dari 1.000 warga Desa Kesokoja sebelumnya mengandalkan bak penampung air hujan. Namun, penampung air tersebut rusak akibat gempa sehingga warga kehilangan sumber air utama.
Untuk mendapatkan air, warga harus berjalan kaki sekitar satu kilometer menuju lokasi uap panas bumi. Air ditadah sejak malam hingga pagi dan hanya menghasilkan sekitar satu jerigen berisi lima liter.
“Selama gempa ini kami hanya mengambil air ini jalan kaki. Sepanjang satu kilometer, dari rumah sampai di air uap ini,” kata warga Desa Kesokoja, Lusia Lenga dalam tayangan Metro Hari Ini Metro TV, Sabtu 29 Agustus 2026.
Lusia mengatakan warga harus menunggu semalaman untuk mendapatkan satu jerigen air.
“Kalau tadah mulai dari malam sampai pagi itu kami ambil satu jerigen,” ujarnya.
Air hasil pengembunan uap panas bumi Gunung Rokatenda tersebut disebut dapat langsung dikonsumsi tanpa perlu dimasak.
Sementara itu, Pemerintah Provinsi NTT memperpanjang masa tanggap darurat bencana gempa Flores hingga 12 September 2026. Perpanjangan dilakukan karena gempa susulan masih terus terjadi.
Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena mengatakan pemerintah tetap mewaspadai potensi gempa susulan yang dapat menimbulkan kerusakan.
“Memang risiko bahwa masih ada potensi gempa susulan, yang tentu skalanya sendiri juga bisa, karena sampai dengan 5 sampai dengan 6 misalnya, itu bisa membuat perusakan,” kata Melki.
Meski masa tanggap darurat diperpanjang, pemerintah mulai mengaktifkan kembali sejumlah sektor pelayanan publik secara terbatas, termasuk pendidikan.