Titik panas (hotspot) yang menjadi indikator kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih mengepung sejumlah wilayah di Indonesia. Pada Rabu, 2 September 2026 siang, tercatat lebih dari seribu titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) terdeteksi secara nasional.
Berdasarkan sistem pemantauan Karhutla SiPongi milik Kementerian Kehutanan, data satelit NASA Terra/Aqua mencatat keberadaan 1.304 titik panas. Angka ini diperkuat dengan pantauan satelit NASA SNPP yang mendeteksi 321 titik, serta satelit NASA NOAA-20 yang mendeteksi 287 titik panas di berbagai wilayah.
Provinsi Kalimantan Barat tercatat sebagai wilayah penyumbang
hotspot terbanyak di Indonesia hari ini. Rincian pantauan satelit di provinsi ini menunjukkan 697 titik dari satelit Terra/Aqua, 113 titik dari SNPP, dan 102 titik dari NOAA-20.
Kondisi serupa juga terjadi di Provinsi Kalimantan Tengah yang menyusul di urutan kedua terparah. Wilayah ini mencatatkan 420 titik panas dari pantauan Terra/Aqua, 113 titik dari SNPP, dan 68 titik dari satelit NOAA-20.
Sementara itu, wilayah Sumatra menunjukkan kondisi yang relatif lebih kondusif. Di Provinsi Jambi, sistem hanya mendeteksi 5 titik panas melalui satelit Terra/Aqua dan 1 titik dari satelit NOAA-20. Kabar baik juga datang dari Provinsi Riau, di mana pantauan satelit memastikan sudah tidak ada lagi titik panas bertingkat kepercayaan tinggi yang terdeteksi di wilayah tersebut.