Lestari Moerdijat Gaungkan Musyawarah dan Bhinneka Tunggal Ika di Bosphorus Summit ke-17

5 November 2026 23:07

Indonesia membawa pesan persatuan dan perdamaian dalam forum internasional Bosphorus Summit ke-17 yang diselenggarakan di Istanbul, Turki. Dalam pidato pembukanya (opening remarks), Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menawarkan pengalaman berharga Indonesia yang berpegang pada tradisi musyawarah dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagai solusi mengatasi dinamika perpecahan global.

Di hadapan delegasi dari berbagai negara, Lestari menyoroti kondisi dunia saat ini yang tengah menghadapi transisi mendalam, mulai dari fragmentasi geopolitik, konflik berkepanjangan, krisis iklim, hingga disrupsi yang bergerak jauh melampaui kemampuan adaptasi institusi global.

Menurutnya, stabilitas dunia yang dicari saat ini tidak boleh lahir dari paksaan, melainkan harus dibangun atas dasar rasa saling percaya (trust).

"Stabilitas yang dipaksakan itu rapuh, sedangkan stabilitas yang tumbuh dari rasa saling percaya akan abadi. Stabilitas bukanlah ketiadaan perubahan, melainkan hadirnya rasa saling percaya di tengah perubahan itu sendiri," kata Lestari dikutip dari tayangan Top News Metro TV, Kamis, 5 Oktober 2026.

Rumah Musyawarah dan Bhinneka Tunggal Ika


Lestari memaparkan filosofi bangsa Indonesia melalui lembaga MPR yang ia sebut sebagai 'Rumah Musyawarah'. Tradisi ini mengajarkan bahwa penyelesaian perbedaan dan konflik tidak ditentukan oleh pihak yang bersuara paling lantang, melainkan diraih lewat dialog yang setara hingga tercapai mufakat bersama.

Ia juga menegaskan esensi Bhinneka Tunggal Ika sebagai identitas bangsa yang memandang perbedaan bukan sebagai ancaman, melainkan sumber kekuatan bersama.

"Di tengah dunia yang terpecah, dialog bukanlah tanda kelemahan. Dialog adalah bentuk tertinggi dari keberanian politik," ucap Lestari.

Refleksi Sejarah Panjang Indonesia-Turki


Lestari turut mengenang hubungan historis mendalam antara Indonesia dan Turki yang telah terjalin jauh sebelum berdirinya hubungan diplomatik modern. Hubungan itu telah berakar sejak abad ke-16 melalui diplomasi, perdagangan, dan solidaritas antara Kesultanan Aceh dan Kekaisaran Ottoman, serta ikatan keilmuan para ulama Nusantara yang menuntut ilmu di Tanah Suci.
 

Selain sejarah perdagangan dan keagamaan, kedua negara dipersatukan oleh ketangguhan menghadapi bencana karena sama-sama berada di jalur patahan gempa bumi aktif. Lestari mengingatkan solidaritas nyata antarkedua negara saat bencana tsunami Aceh 2004 maupun gempa dahsyat yang melanda Turki pada 1999 dan 2023.

"Persahabatan kita tidak lahir dari ruang konferensi, melainkan berdiri teguh saat salah satu bangsa mendampingi yang lainnya ketika berduka," ungkapnya.

Kolaborasi Tiga Sektor hingga Investasi Pendidikan


Guna menghadapi tantangan masa depan, Lestari mendorong penguatan kolaborasi tiga pilar utama: sektor swasta (inovasi dan ekonomi), pemerintah/parlemen (kebijakan publik yang melindungi semua), serta masyarakat sipil (partisipasi dan penjaga kepercayaan).

Selain itu, ia menekankan perlunya menempatkan pendidikan sebagai investasi perdamaian agar potensi konflik dapat diredam sejak dari ruang kelas, memperkuat kerja sama mitigasi bencana antarnegara rawan gempa, serta melibatkan perempuan dan generasi muda di pusat perumusan solusi.

"Stabilitas yang mengabaikan separuh populasinya tidak akan pernah utuh. Mari kita tinggalkan Istanbul tidak hanya dengan membawa gagasan bersama, melainkan dengan komitmen bersama yang nyata," pungkas Lestari.

(Nopita Dewi)


Close Ads X
Close Ads X