Lestari Moerdijat Ajak Kembangkan Dialog untuk Wujudkan Stabilitas Dunia

Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat (Rerie) saat memberi sambutan pembuka pada acara Bosphorus Summit ke-17 di Istanbul, Turki, Kamis, 5 November 2026. . Foto: Dok. Metrotvnews.com.

Lestari Moerdijat Ajak Kembangkan Dialog untuk Wujudkan Stabilitas Dunia

Siti Yona Hukmana • 5 November 2026 16:08

Jakarta: Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat mengatakan dunia senantiasa mengalami transformasi besar. Hal itu disampaikan saat memberi sambutan pembuka pada acara Bosphorus Summit ke-17 di Istanbul, Turki, Kamis, 5 November 2026. 

"Kita menyaksikan fragmentasi geopolitik, konflik berkepanjangan, krisisis lingkungan, dan disrupsi teknologi, yang sangat cepat yang membuat kita tertinggal," kata Lestari dalam keterangan tertulis, Kamis, 5 November 2026.

Bosphorus Summit merupakan program tahunan yang diselengarakan oleh International Cooperation Platform (UIP/ICP) yang tahun inu bertemakan "Global Transformation and Search For Stability". Lestari menjadi pembicara pembuka bersama sejumlah tokoh dunia, antara lain Faisal Al-Fayez (Presiden Senat Yordania), Yassine Jaber (Menteri Keuangan Lebanon), Hala H. ElSaid (Mantan Menteri Perebcanaan dan Pembangunan Mesir, kini Penasihat Ekonomi Presiden Mesir).

Lestari melanjutkan dalam dunia yang berubah cepat, semua pihak perlu mengupayakan stabilitas. "Tetapi kita harus bertanya pada diri kita, stabilitas seperti apa yang kita cari," ujar Rerie sapaan akrab Lestari.

Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat (Rerie) saat memberi sambutan pembuka pada acara Bosphorus Summit ke-17 di Istanbul, Turki, Kamis, 5 November 2026. . Foto: Dok. Metrotvnews.com.

Menurut Rerie, stabilitas yang dicari bukan lah stabilitas dipaksakan yang justru menyebabkan perpecahan. Yang dikejar, kata Rerie, stabilitas yang tumbuh dari kepercayaan karena ia bersifat langgeng.

"Stabilitas  bukan berarti ketiadaan perubahan. Stabilitas justru menghadirkan kepercayaan di tengah perubahan," tegas Rerie.

Rerie menawarkan dialog atau musyawarah untuk mewujudkan stabilitas di tengah perubahan. Dialog atau musyawarah berakar kuat dalam tradisi dan pengalaman Indonesia.

"Institusi saya, Majelis Permusyawaratan Rakyat, adalah rumah musyawarah, sebuah tradisi deliberatif atau rembukan. Perbedaan tidak diselesaikan dengan suara paling keras, tetapi melalui dialog untuk mencapai konsensus," terang Rerie.

Rerie memperkenalkan moto Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu. Moto ini menunjukkan perbedaan bukan ancaman, melainkan sumber kekuatan.

"Dalam dunia yang terbagi-bagi, dialog bukan kelemahan, melainkan bentuk tertinggi keberanian politik," ungkap Rerie.

Di akhir sambutannya, Rerie mengajak dunia mengembangkan pendidikan, kerja sama mitigasi dan penanggulangan bencana, dan penempatan perempuan dan kaum muda di jantung penyelesaian persoalan.

(Siti Yona Hukmana)