Serunya Belajar Membatik di Museum Tekstil Jakarta

2 October 2026 18:57

Jakarta: Membatik tak hanya membutuhkan kreativitas, tetapi juga ketelitian dan kesabaran. Hal itu dirasakan langsung peserta workshop membatik di Museum Tekstil Jakarta yang mencoba seluruh proses pembuatan batik, mulai dari membuat pola, mencanting, pewarnaan hingga pelorotan.

Peserta memulai proses dengan menggambar pola di atas kain mori sesuai kreasi masing-masing. Setelah itu, canting digunakan untuk menorehkan malam panas mengikuti garis pola.

Proses mencanting menjadi salah satu tantangan bagi peserta pemula. Tangan harus tetap stabil agar malam tidak tumpah dan merusak pola yang sudah dibuat.

Salah satu peserta, Syahira Aqilla, mengaku bagian membuat pola dan menorehkan malam menjadi pengalaman yang paling menarik sekaligus menantang.

“Menurut aku yang paling seru itu justru ini nih, di menulis batiknya sendiri atau menggambar batik ini. Terus ini juga lumayan part yang paling susah, karena kebetulan tadi kena juga ke celana. Tapi seru banget,” ujar Syahira dalam tayangan Metro Siang Metro TV, Jumat 2 Oktober 2026. 

Syahira yang baru pertama kali mencoba membatik memilih motif Mega Mendung. Pengalaman tersebut membuatnya tertarik untuk mengajak teman-temannya mencoba aktivitas serupa.

“Jujur seru banget, jadi aku pengen sebenarnya pengen sih ngajak teman-teman aku yang lainnya buat ngebatik lagi,” katanya.

Setelah mencanting, kain kemudian masuk ke tahap pewarnaan hingga pelorotan untuk memisahkan malam dari kain. Rangkaian proses tersebut membuat peserta dapat melihat langsung panjangnya tahapan pembuatan kain batik.

Instruktur Workshop Batik Museum Tekstil Jakarta, Sumaryono, mengatakan pengalaman langsung membatik penting bagi generasi muda untuk mengenal sekaligus mencintai batik sebagai warisan budaya Indonesia.

“Oke, untuk anak-anak muda, karena batik itu warisan asli budaya Indonesia, ya setidaknya kita harus mencintai, lebih-lebih kita bisa mengembangkan,” ujar Sumaryono.

Menurutnya, pengembangan batik juga dapat dilakukan dengan mengangkat ciri khas dari berbagai wilayah di Indonesia.

“Setiap daerah masing-masing punya potensi ya misalnya untuk koleksi, jenis motifnya nanti bisa dikembangkan untuk wilayah masing-masing. Di Indonesia kan luas tuh, tidak hanya di Pulau Jawa,” katanya.

Sumaryono menyebut motif khas dari berbagai daerah di Sumatera, Kalimantan, hingga Sulawesi dapat dikembangkan dan diaplikasikan dalam batik sehingga memiliki ciri khas masing-masing.

Pengalaman membatik di Museum Tekstil Jakarta menunjukkan proses pembuatan batik tidak dapat dilakukan secara terburu-buru. Dari membuat pola, mencanting, pewarnaan hingga menjadi kain siap digunakan, setiap tahap membutuhkan ketelitian dan kesabaran.

Melalui pengalaman langsung tersebut, masyarakat juga dapat mengenali perbedaan batik tulis dengan kain bermotif hasil cetak. Keterlibatan generasi muda menjadi salah satu cara untuk menjaga batik tetap dikenal dan berkembang sebagai warisan budaya Indonesia.

(Reno Panggalih Nuha Lathifah)


Close Ads X
Close Ads X