Pascagempa, Warga Nagekeo Bangun Huntara Mandiri

8 September 2026 20:26

Tiga minggu pascagempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Flores pada pertengahan Agustus lalu, warga Kabupaten Nagekeo mulai meninggalkan posko pengungsian utama. Meski telah kembali ke lahan pribadi, kerusakan bangunan yang parah serta trauma akan gempa susulan memaksa warga bertahan di hunian sementara (huntara) hasil swadaya.

Pantauan di lapangan menunjukkan kondisi rumah warga yang sangat memprihatinkan. Sebagian besar bangunan mengalami kerusakan struktural serius, atap roboh, dinding retak, hingga kaca yang hancur. Kondisi ini membuat rumah-rumah tersebut mustahil untuk ditempati kembali tanpa perbaikan total.

Sebagai solusi, warga secara kreatif membangun huntara di samping atau belakang reruntuhan rumah mereka. Dengan memanfaatkan material sisa seperti plafon PVC, papan, dan terpal, mereka merancang ruang sederhana untuk tidur dan memasak.

Dewi, salah seorang warga Nagekeo, mengaku terpaksa membangun huntara mandiri demi kesehatan anak-anaknya. Menurutnya, tinggal di tenda darurat terbuka sangat berisiko bagi kesehatan buah hatinya.
 



"Jadi pas di tenda itu cuacanya dingin, terus angin, tidak baik untuk kondisi anak-anak. Akhirnya setelah saya dan suami bercerita, terus kita berinisiatif membangun hunian sementara ini dengan menggunakan bahan-bahan yang ada di dalam rumah. Terus setelah kita melihat atau memanggil tukang, tukang bilang bisa kita memakai bekas plafon PVC ya. Makanya dibuatkan seperti ini, intinya bisa untuk tidur dengan nyaman,” ungkap Dewi dalam tayangan Primetime News Metro TV, Selasa, 8 September 2026.

Selain masalah fasilitas, faktor psikologis juga menjadi penyebab utama warga enggan masuk ke dalam rumah. Gempa susulan dengan magnitudo bervariasi antara dua hingga lima masih sering dirasakan masyarakat setempat.

"Karena gempa ini masih ada susulannya, jadi anak-anak itu agak trauma di dalam. Jadi kalau seandainya gempa, biasa kita keluar tidur lagi di luar, istirahat kembali di luar karena anak-anak merasa kurang nyaman, tidurnya kurang nyenyak seperti itu," tambahnya.

Hingga saat ini, warga masih menanti langkah selanjutnya dari pemerintah terkait bantuan perbaikan rumah. Meski telah memasuki tahap dua masa tanggap darurat, bayang-bayang trauma dan ancaman aktivitas tektonik masih menjadi tantangan besar bagi warga Nagekeo untuk menata kembali kehidupan mereka.

(Firny Firlandini Budi)


Close Ads X
Close Ads X