Mengapa Kita Susah Bangun Pagi Meski Alarm Banyak? Ini Penjelasan Ilmiahnya-Tips Kesehatan

Zein Zahiratul Fauziyyah • 28 November 2025 11:27

Jakarta: Banyak orang merasa sudah memasang banyak alarm, namun tetap sulit bangun pagi. Situasi ini umum terjadi dan ternyata berkaitan langsung dengan ritme biologis tubuh, kualitas tidur, hingga kebiasaan bangun yang keliru. 

Sobat MTVN Lens, kali ini kita akan mengulas penyebab ilmiah di balik sulitnya bangun pagi berdasarkan riset dan penjelasan dari sejumlah lembaga resmi seperti National Sleep Foundation, CDC, dan Harvard Medical School.

1. Ritme Sirkadian yang Berantakan

Menurut National Sleep Foundation, tubuh manusia memiliki jam biologis yang disebut ritme sirkadian. Sistem ini bekerja layaknya penentu waktu internal yang mengatur kapan tubuh merasa mengantuk, kapan tubuh segar, serta kapan hormon-hormon tertentu dilepaskan.

Ketika jam tidur seseorang tidak konsisten misalnya sering tidur sangat malam pada hari kerja dan bangun siang pada akhir pekan, ritme sirkadian menjadi kacau. Tubuh pun kesulitan memproses sinyal bangun ketika alarm berbunyi karena waktu istirahat tidak sesuai dengan jam biologis yang seharusnya.
   

2. Kualitas Tidur yang Buruk Meski Durasi Cukup


Banyak orang mengira tidur cukup lama berarti sudah cukup istirahat. Padahal, CDC (Centers for Disease Control and Prevention) menegaskan bahwa kualitas tidur sama pentingnya dengan durasi.

Gangguan seperti sering terbangun, paparan cahaya layar sebelum tidur, dan lingkungan tidur yang tidak kondusif dapat menghambat tubuh mencapai tidur dalam (deep sleep), fase yang memberi efek pemulihan terbesar.

Kualitas tidur yang buruk membuat otak tidak mendapat kesempatan penuh untuk memproses memori, mengurangi stres, dan memulihkan sistem tubuh. Akibatnya, saat alarm berbunyi, tubuh merasa belum siap terjaga.

3. Sleep Inertia: Otak Belum Siap Bangun

Fenomena sleep inertia juga menjadi faktor utama. Harvard Medical School menjelaskan bahwa sleep inertia adalah kondisi ketika otak masih setengah tertidur meski tubuh sudah terbangun.

Jika alarm berbunyi saat kita sedang berada di fase tidur paling dalam, otak akan membutuhkan lebih banyak waktu untuk berfungsi optimal. Ini membuat tubuh merasa berat, bingung, dan enggan bangun dari tempat tidur.

Sleep inertia bisa berlangsung beberapa menit hingga lebih dari satu jam, tergantung kualitas tidur dan konsistensi jadwal tidur.

4. Kebiasaan Menekan Tombol Snooze

Kebiasaan menekan tombol snooze justru membuat tubuh makin lelah. National Institutes of Health (NIH) menyebut bahwa tidur kembali selama beberapa menit setelah snooze akan memulai siklus tidur baru yang tidak akan sempat selesai.

Ketika alarm kembali berbunyi, otak dipaksa terbangun dari fase tidur ringan yang tidak stabil, sehingga rasa kantuk justru semakin kuat.

5. Penyebab Tambahan Lainnya

Beberapa faktor lain yang juga berpengaruh:
  • kurangnya paparan sinar matahari di pagi hari
  • waktu makan malam terlalu larut
  • stres tinggi
  • konsumsi kafein atau gula mendekati waktu tidur
Berbagai faktor ini dapat mengganggu keseimbangan hormon seperti melatonin dan kortisol, yang menentukan kesiapan tubuh untuk tidur dan bangun.

Sobat MTVN Lens, kesulitan bangun pagi bukan semata-mata soal kurang disiplin, tetapi karena ritme sirkadian terganggu, kualitas tidur yang tidak optimal, efek sleep inertia, dan kebiasaan tidur yang tidak konsisten. Memperbaiki jadwal tidur serta menghindari kebiasaan snooze dapat membantu tubuh lebih cepat beradaptasi dan bangun dengan lebih segar.

Jangan lupa saksikan MTVN Lens lainnya hanya di Metrotvnews.com. 

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
Viral!, 18 Kampus ternama memberikan beasiswa full sampai lulus untuk S1 dan S2 di Beasiswa OSC. Info lebih lengkap klik : osc.medcom.id
(Zein Zahiratul Fauziyyah)