9 May 2026 18:31
Ibadah haji bukan sekadar rangkaian ritual semata, melainkan sebuah perjalanan spiritual mendalam yang menjadi refleksi atas perjalanan hidup manusia. Di balik setiap tahapannya, tersimpan pesan filosofis bagi jemaah untuk mengenali jati diri dan meningkatkan ketundukan kepada Sang Pencipta.
Puncak ibadah haji terjadi saat wukuf di Arafah, di mana jutaan orang berkumpul untuk bermuhasabah atau melakukan introspeksi diri. Momen ini dianggap sebagai ruang perenungan bahwa manusia adalah makhluk yang penuh keterbatasan. Kesadaran akan kekurangan diri inilah yang diharapkan dapat memperkuat ketundukan seorang hamba kepada Allah SWT.
“Barang siapa yang mengetahui jati dirinya, maka dia insyaallah akan mengetahui haknya Allah Subhanahu wa taala,” jelas pembimbing ibadah haji 2026 Patuna Travel, Ustaz Achmad Syaifuddin.
Setelah wukuf, jemaah melakukan tawaf dengan mengelilingi Ka’bah. Ritual ini dimaknai sebagai bentuk penyatuan gerak dengan seluruh makhluk Allah, mulai dari malaikat hingga seluruh elemen alam semesta, baik yang bersifat makrokosmos maupun mikrokosmos.
Rangkaian lempar jumroh juga memiliki makna simbolis yang kuat. Ritual ini bukan sekadar melempar batu, melainkan simbol perlawanan terhadap sifat-sifat negatif dalam diri manusia, terutama kesombongan.
“Ada kesombongan yang muncul itu harus kita cabut, kita buang jauh-jauh. Karena kesombongan itu dapat menghalangi seseorang dalam meraih cita-citanya," jelas Ustaz Achmad.
| Baca juga: Memahami Perbedaan Rukun dan Wajib Haji yang Harus Dipahami Calon Jemaah |