Metro TV • 30 September 2026 20:07
Banda Aceh: Direktur Politeknik Pelayaran (Poltekpel) Malahayati Aceh, Andi Fiardi, buka suara terkait meninggalnya Muhammad Rasya Fadhillah. Pihak kampus membantah adanya kekerasan terhadap Rasya dan menyebut penyebab kematian masih menunggu hasil pemeriksaan pihak berwenang.
Andi mengatakan pihak kampus telah memberikan penanganan kepada Rasya sejak taruna tersebut mengalami sakit pada Sabtu, 26 September 2026. Rasya sempat mendapat perawatan di Poliklinik Poltekpel Malahayati sebelum kondisinya memburuk dan dirujuk ke RSUD dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh.
Rasya kemudian meninggal dunia pada Minggu, 27 September 2026. Polisi saat ini masih melakukan penyelidikan dan menunggu hasil pemeriksaan forensik untuk mengetahui penyebab pasti kematian.
Andi menegaskan, berdasarkan informasi sementara yang diterima pihak kampus, tidak ditemukan bukti yang menunjukkan adanya kekerasan terhadap Rasya.
“Kalau kami menganggap bahwa sementara ya, kami yakini dan kami pastikan tidak ada kekerasan itu terjadi di sekolah,” kata Andi.
Ia juga menanggapi informasi mengenai memar pada tubuh Rasya. Menurutnya, pihak kampus belum dapat menyimpulkan bahwa memar tersebut merupakan akibat kekerasan. Meski demikian, Andi menegaskan pihak kampus menyerahkan penentuan penyebab kematian kepada kepolisian dan tenaga medis yang melakukan pemeriksaan.
“Sementara tidak ada membuktikan bahwa memar-memar karena tingkat kekerasan,” ujarnya.
“Pasti ada, tapi kami belum bisa sampaikan itu dalam rangka penyelidikan,” tambah Andi.
Andi membantah pihak Poltekpel Malahayati pernah menyatakan bahwa Rasya meninggal akibat keracunan obat. Ia meminta persoalan tersebut diserahkan kepada pihak kepolisian yang tengah melakukan penyelidikan.
“Pihak Poltek dari saya sendiri selaku Direktur belum pernah menyatakan bahwa ini karena keracunan obat. Nah, ini kita serahkan kepada pihak Polres yang melakukan penyelidikan,” ujarnya.
Polisi sebelumnya telah melakukan pemeriksaan awal di lingkungan Poltekpel Malahayati dan RSUDZA. Pemeriksaan forensik, termasuk visum dan CT scan, dilakukan untuk membantu mengungkap kondisi Rasya sebelum meninggal dunia.
Andi meminta semua pihak bersabar dan menghormati proses penyelidikan yang masih berlangsung. Pihak kampus juga menyatakan siap memberikan data maupun keterangan yang dibutuhkan penyidik. Ia juga menjelaskan bahwa kegiatan yang dijalani Rasya merupakan masa orientasi pembentukan karakter atau Madatukar, bukan ospek dalam pengertian yang biasa disebut masyarakat.
“Kita di sini bukan ospek ya, namanya Madatukar, masa orientasi,” kata Andi.
Menurut Andi, kegiatan orientasi berlangsung pada 4–14 September 2026. Sementara itu, Rasya mengalami sakit pada 26 September 2026 dan meninggal sehari setelahnya.
“Orientasi tadi kan sudah kita jelaskan tanggalnya sampai tanggal 4–14. Nah, kejadian itu tanggal 27 kan, rentangnya kan jauh,” ujarnya.
Poltekpel Malahayati menyatakan akan mengikuti proses pemeriksaan yang dilakukan pihak berwenang. Penyebab pasti kematian Rasya akan mengacu pada hasil pemeriksaan medis dan penyelidikan kepolisian.