Hanung Bramantyo Sengaja Bikin Lobang Buaya Tak Terlalu Otentik

Zein Zahiratul Fauziyyah • 27 September 2026 14:29

Jakarta: Hanung Bramantyo sengaja memberi jarak antara kisah fiksi dalam film Lobang Buaya dengan tragedi sejarah 30 September 1965. Meski filmnya bergerak menuju peristiwa tersebut, Hanung mengaku sengaja mengubah sejumlah detail agar cerita tidak dianggap sebagai gambaran kejadian sejarah yang sebenarnya.

Film yang dibintangi Baskara Mahendra, Carissa Perusset, Anya Zen, dan Mathias Muchus ini dijadwalkan tayang pada 1 Oktober 2026.
 

 

Hanung Bramantyo Gabungkan Horor dan Fiksi Sejarah

Hanung Bramantyo mengungkapkan, memadukan genre horor dengan fiksi sejarah menjadi tantangan tersendiri dalam menggarap Lobang Buaya. Terlebih, alur film bergerak menuju 30 September 1965 yang memiliki konteks sejarah lebih luas dibandingkan kisah para tokoh fiksinya.

Karena itu, Hanung berusaha menjaga batas antara cerita yang dibuatnya dengan peristiwa sejarah yang sebenarnya.

“Saya coba resapi, apalagi peristiwa ini. Awalnya pilihan horor itu betul-betul sebuah genre yang membutuhkan pemikiran,” ungkap Hanung saat menghadiri Gala Premiere, Jumat, 26 September 2026.

Hanung Ubah Sejumlah Detail agar Tak Terlalu Otentik

Hanung mengatakan, proses riset yang dilakukan justru membuatnya berhati-hati dalam menuangkan cerita ke layar. Ia khawatir penggambaran yang terlalu sesuai dengan kondisi sebenarnya membuat penonton menganggap film tersebut sebagai representasi fakta sejarah.

Karena itu, sejumlah detail sengaja dibuat berbeda. Salah satunya penggambaran Desa Lobang Buaya dalam film.

Dalam kondisi sebenarnya, kawasan Lubang Buaya merupakan wilayah perkebunan karet. Namun, Hanung tidak menggambarkan lokasi tersebut secara persis seperti kondisi aslinya agar film tidak terlalu merujuk pada fakta sejarah.

“Kami semuanya melakukan riset yang cukup mendalam. Cuma persoalannya pada saat kita menuangkan ke dalam film, kami takut kalau itu benar-benar otentik malah dikiranya kenyataan,” ungkap Hanung.

Selain latar lokasi, Hanung juga meminta tim kamera memberikan sentuhan berbeda melalui color grading. Salah satunya dengan mengubah nuansa hutan yang semula hijau menjadi lebih kecokelatan.

Langkah tersebut dilakukan untuk membangun dunia fiksi dalam film sekaligus mempertegas jarak antara cerita Lobang Buaya dengan kondisi sejarah yang sebenarnya.

(Sofwa Najla Tsabita Sunanto)

(Zein Zahiratul Fauziyyah)


Close Ads X
Close Ads X