Trump Ancam Kenakan Tarif 25 Persen bagi Negara Mitra Dagang Iran

14 January 2026 23:12

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan ancaman ekonomi serius bagi komunitas internasional. Melalui akun media sosialnya, Trump menyatakan akan mengenakan tarif bea masuk sebesar 25% terhadap negara mana pun yang nekat menjalin hubungan dagang dengan Iran.

Kebijakan proteksionisme agresif ini diambil Trump sebagai respons atas situasi gejolak politik dan kemanusiaan yang sedang terjadi di Iran.

"Setiap negara yang berbisnis dengan Republik Islam Iran akan membayar tarif 25% atas semua bisnis (ekspor) yang dilakukan dengan Amerika Serikat," tulis Trump dalam unggahannya.

Trump menegaskan aturan bea masuk baru ini akan berlaku segera (effective immediately), meskipun ia belum merinci detail teknis cakupan produk atau mekanisme implementasinya.
 

Baca juga:
Pejabat Iran Sebut Setidaknya 3.000 Orang Tewas dalam Unjuk Rasa

Respons atas Gejolak di Iran

Ultimatum dagang ini muncul di tengah gelombang protes antipemerintah yang kian memanas di Iran. Bermula dari demonstrasi damai menuntut perbaikan ekonomi, aksi tersebut berubah menjadi kerusuhan besar.

Laporan internasional menyebutkan bahwa tindakan represif aparat keamanan Iran telah menyebabkan ratusan korban jiwa dan ribuan demonstran ditahan. Trump menggunakan instrumen tarif ini untuk menekan rezim Iran dan negara-negara yang menyokong ekonominya.

Dalam pernyataan videonya, Trump bahkan mengadaptasi slogan kampanyenya untuk situasi di Iran. "Saya katakan, Make Iran Great Again (Buat Iran Berjaya Lagi). Anda tahu, Iran adalah negara yang hebat sampai para monster ini datang dan mengambil alihnya," ujar Trump merujuk pada rezim yang berkuasa di Iran saat ini.

Jika ancaman ini direalisasikan, dampaknya akan mengguncang peta perdagangan global. Tiongkok diprediksi menjadi negara yang paling terpukul karena merupakan mitra dagang terbesar Iran, baik untuk impor maupun ekspor minyak.

Selain Tiongkok, mitra dagang utama Iran lainnya seperti Uni Emirat Arab (UEA), Turki, dan negara-negara Uni Eropa juga berada dalam bayang-bayang sanksi tarif tinggi AS jika tidak segera memutus hubungan bisnis dengan Teheran.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Sofia Zakiah)