Protes di Iran. (West Asia News Agency/WANA)
Pejabat Iran Sebut Setidaknya 3.000 Orang Tewas dalam Unjuk Rasa
Riza Aslam Khaeron • 14 January 2026 13:42
Teheran: Seorang pejabat senior di Kementerian Kesehatan Iran mengungkapkan kepada The New York Times (NYT) bahwa sekitar 3 ribu orang telah tewas dalam gelombang unjuk rasa yang berlangsung selama dua minggu terakhir. Jumlah ini menjadikan penindakan terhadap demonstrasi kali ini sebagai salah satu yang paling mematikan dalam sejarah Iran belakangan ini.
Pejabat tersebut yang meminta identitasnya dirahasiakan, menyebut bahwa jumlah korban termasuk ratusan anggota pasukan keamanan dan menyalahkan "teroris" atas eskalasi kekerasan.
Seorang pejabat lain menyatakan telah melihat laporan internal pemerintah yang menyebut angka korban tewas setidaknya 3.000 jiwa, dan memperingatkan bahwa jumlahnya kemungkinan masih akan bertambah.
Kesaksian dari warga dan tenaga medis menggambarkan situasi mengerikan: penembakan brutal oleh aparat keamanan terhadap demonstran tak bersenjata, banyak di antaranya terkena tembakan di kepala, dada, dan leher.
"Ini situasi korban massal," ujar seorang dokter kepada Center for Human Rights in Iran, seraya menambahkan bahwa rumah sakit kewalahan menangani lonjakan pasien luka tembak.
Salah satu saksi mata bernama Yasi menceritakan kepada NYT bahwa ia menyaksikan seorang remaja laki-laki ditembak di kaki oleh aparat di Teheran saat ibunya menjerit, "Anakku! Anakku! Mereka menembak anakku!"
Rekaman video yang diverifikasi NYT menunjukkan kerumunan massa di Teheran dengan suara tembakan dan teriakan "Matilah diktator!" Sementara itu, citra barisan kantong jenazah di pinggiran kota Kazhirak dan laboratorium forensik Teheran beredar luas di media sosial, memperlihatkan skala kekerasan yang mengejutkan.
| Baca Juga: Korban Tewas Protes Iran Tembus 2.000, Trump: Bantuan Segera Datang |
Kelompok HAM HRANA yang berbasis di AS melaporkan bahwa hingga Selasa, 13 Januari 2026, mereka mencatat 1.850 demonstran dan 135 aparat keamanan tewas, dengan 770 kasus kematian lain yang masih dalam proses verifikasi.
Warga bernama Saeed, yang menggunakan koneksi Starlink untuk menyampaikan kabar dari dalam Iran, menggambarkan kondisi sebagai "pembantaian berdarah". Ia mengatakan kepada NYT bahwa ia menyaksikan langsung seorang demonstran ditembak di kepala dan lainnya di lutut, sebelum tubuh mereka diseret oleh aparat.
Rumah sakit di Teheran dilaporkan menjadi lokasi penangkapan korban luka. Menurut laporan, keluarga yang mencoba mengambil jenazah korban dipaksa membuat pengakuan bahwa kematian disebabkan oleh "teroris".
Meskipun terjadi pemblokiran total komunikasi selama lima hari terakhir, bukti visual dan kesaksian yang keluar dari Iran memperlihatkan bahwa skala kekerasan kali ini jauh melampaui unjuk rasa sebelumnya.
"Kami memperkirakan setidaknya 1.000 kematian secara nasional dan kemungkinan lebih banyak," ujar Hadi Ghaemi, Direktur Eksekutif Center for Human Rights in Iran. Ia menambahkan bahwa informasi yang ada saat ini "hanyalah puncak gunung es".
Jika jumlah 3.000 korban jiwa ini terkonfirmasi secara menyeluruh, maka hal ini akan menjadi salah satu tragedi paling berdarah dalam sejarah modern Republik Islam Iran.