Korban Tewas Protes Iran Tembus 2.000, Trump: Bantuan Segera Datang

Presiden AS Donald Trump. (EPA-EFE)

Korban Tewas Protes Iran Tembus 2.000, Trump: Bantuan Segera Datang

Willy Haryono • 14 January 2026 07:54

Washington: Lebih dari 2.000 orang dilaporkan tewas akibat tindakan keras aparat keamanan Iran terhadap gelombang aksi protes warga, menurut kelompok hak asasi manusia Human Rights Activists News Agency (HRANA). Di tengah situasi tersebut, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berjanji kepada rakyat Iran bahwa bantuan “sedang dalam perjalanan."

Dikutip dari BBC, Rabu, 14 Januari 2026, HRANA telah mengonfirmasi tewasnya 1.850 demonstran Iran, dengan detail 135 orang yang berafiliasi dengan pemerintah, sembilan warga sipil yang tidak terlibat, serta sembilan anak-anak dalam 17 hari terakhir di tengah pemadaman internet.

Seorang pejabat Iran juga mengatakan kepada Reuters bahwa sekitar 2.000 orang telah tewas, namun menyalahkan “teroris” sebagai pihak yang bertanggung jawab.

Trump dijadwalkan menghadiri pertemuan terkait Iran pada Selasa malam dan berjanji akan memperoleh angka korban tewas yang “akurat."

“Pembunuhan itu tampaknya signifikan, tetapi kami belum mengetahui secara pasti,” kata Trump kepada wartawan saat kembali ke Gedung Putih.
Setelah mendapatkan angka tersebut, ia menambahkan, “kami akan melakukan tindakan yang sesuai.”

Sebelumnya di hari Selasa, Trump menulis di platform Truth Social bahwa otoritas Iran akan “membayar harga mahal” atas pembunuhan tersebut, serta menyerukan masyarakat untuk “terus berunjuk rasa."

“Saya telah membatalkan seluruh pertemuan dengan pejabat Iran hingga pembunuhan demonstran yang tidak masuk akal ini BERHENTI. BANTUAN SEDANG DALAM PERJALANAN. MIGA!!!,” tulisnya, menggunakan akronim slogan oposisi Iran berbasis di AS, “Make Iran Great Again”.

Trump juga tengah mempertimbangkan opsi militer dan langkah lain sebagai respons terhadap penindakan tersebut, setelah sebelumnya mengumumkan tarif 25 persen terhadap setiap negara yang berdagang dengan Iran.

Gelombang Protes di Iran

Aksi protes, yang dilaporkan telah menyebar ke 180 kota dan kabupaten di seluruh 31 provinsi, dipicu oleh kemarahan atas runtuhnya nilai mata uang Iran serta melonjaknya biaya hidup. Protes tersebut dengan cepat meluas menjadi tuntutan perubahan politik dan menjadi salah satu tantangan paling serius terhadap pemerintahan ulama sejak Revolusi Islam 1979.

Protes meningkat tajam sejak Kamis lalu dan dihadapi dengan kekuatan mematikan oleh otoritas, yang berlangsung di tengah pemadaman hampir total internet dan layanan komunikasi.

HRANA pada Selasa sore menyatakan selain telah mengonfirmasi sedikitnya 2.003 korban tewas selama kerusuhan, pihaknya juga tengah meninjau laporan tambahan terkait 779 kematian lainnya.

“Kami terkejut, tetapi kami masih menilai angka ini konservatif,” kata Wakil Direktur Skylar Thompson.

Sementara itu, kelompok lain yang berbasis di Norwegia, Iran Human Rights (IHR), menyatakan telah mengonfirmasi sedikitnya 734 demonstran tewas.

Direkturnya, Mahmood Amiry-Moghaddam, mengatakan angka tersebut “berdasarkan informasi dari kurang dari separuh provinsi di negara itu dan kurang dari 10 persen rumah sakit di Iran," seraya menambahkan bahwa “jumlah sebenarnya kemungkinan mencapai ribuan."

Reuters melaporkan pejabat Iran yang tidak disebutkan namanya dan menyebut angka korban sekitar 2.000 orang tidak memberikan rincian lebih lanjut. Namun, pejabat tersebut mengatakan “teroris” berada di balik kematian baik demonstran maupun personel keamanan.

Baca juga:  Pejabat Iran Akui 2.000 Orang Tewas dalam Demonstrasi

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)