Kementerian Pertanian (Kementan) menggelar tanam padi serentak di 26 provinsi dengan memanfaatkan lahan hasil optimalisasi dan cetak sawah rakyat agar segera produktif. Langkah ini menjadi upaya pemerintah menjaga produksi beras dan mengejar target swasembada pangan yang berkelanjutan.
Gerakan tanam padi serentak dimulai dari Desa Gemenggeng, Kecamatan Pace, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Bibit padi ditanam bersama petani muda, penyuluh pertanian, pemerintah daerah, hingga brigade pangan.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian Kementerian Pertanian, Idha Widi Arsanti menegaskan lahan yang telah mendapat intervensi pemerintah harus segera dimanfaatkan agar mampu menambah produksi pangan.
“Tentu saja kita sangat berharap bahwa dengan beberapa kali kita melakukan gerakan tanam ini, maka upaya khusus kita terutama untuk kemudian bisa mengoperasionalisasikan rekan-rekan kita brigade pangan tidak hanya di luar Jawa saja, tapi termasuk juga untuk Oplah lahan non-rawa di Pulau Jawa ini juga bisa kita optimalkan. Dan kemudian tentu saja kita juga sangat berharap bahwa ketika lahan-lahan yang sudah kita buka melalui cetak sawah rakyat ini sudah bisa dilakukan pertanaman oleh para petani, kita juga mendorong para brigade pangan untuk segera melakukan pertanaman, dan dengan atau melalui gerakan tanam serentak ini, maka tentu saja kita sangat berharap ini akan mendukung dan kemudian juga menyegerakan pelaksanaan tanam yang dilakukan oleh para petani.” kata Kepala BPPSDMP Kementerian Pertanian, Idha Widi Arsanti, dari tayangan Selamat Pagi Indonesia, Metro TV, Minggu, 19 Juli 2026.
Program optimalisasi lahan (Oplah) tahun 2024 dan 2025, serta cetak sawah rakyat tahun 2025 terus didorong untuk meningkatkan luas tanam, indeks pertanaman, dan produktivitas padi. Pemerintah menargetkan penerapan pertanian modern dalam gerakan tanam serentak ini dapat meningkatkan hasil produksi, menjaga surplus beras, serta memperkuat kemandirian pangan nasional.
“Menghemat waktu tanam dan menghemat juga tenaga untuk tanam, dan produksinya diharapkan bisa mencapai 10 ton per hektare dengan BC ratio kurang lebih 3 ke atas. Ini betul-betul dorongan lebih bagus lagi ke depan.” tutur PJ Swasembada Pangan Berkelanjutan Jawa Timur, Yuris Tiyanto.
Menghadapi musim kemarau, pemerintah Provinsi Jawa Timur juga menyiapkan 4.000 titik irigasi perpompaan untuk menjaga ketersediaan air bagi lahan pertanian. Hingga Juli 2026, realisasi tanam padi di Nganjuk telah mencapai sekitar 58.000 hektare atau 55,8 persen dari target 105.000 hektare tahun ini.
“Brigade pangan yang bisa memanfaatkan hasil tadi, saya khususnya yang berhubungan dengan penyediaan air pada musim kemarau, ada irpom, ada pompanisasi, dan lain-lain. Saya pikir ini kami bersyukur percepatan tanam dipusatkan di Jawa Timur, dan kami akan tetap mendukung apa yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian untuk swasembada berkelanjutan. Saya pikir ini.” ucap Plt Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim, Heri Suseno.
Tanam serentak ini juga berlangsung di sejumlah wilayah lain seperti Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, Jambi, Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, hingga Sumatera Utara. Melalui gerakan ini, Kementerian Pertanian menargetkan lahan-lahan produktif dapat segera dimanfaatkan untuk memperkuat cadangan pangan dan mewujudkan
swasembada pangan yang berkelanjutan.