Jakarta: Diabetes mellitus merupakan penyakit kronis yang terjadi ketika tubuh tidak mampu memproduksi insulin dalam jumlah cukup atau tidak dapat menggunakan insulin secara efektif. Insulin adalah hormon yang diproduksi pankreas dan berperan mengatur kadar glukosa (gula) dalam darah. Ketika fungsi insulin terganggu, kadar gula darah dapat meningkat dan dalam jangka panjang berisiko menyebabkan komplikasi serius pada jantung, ginjal, mata, hingga saraf.
Karena gejalanya sering berkembang secara perlahan, banyak penderita diabetes tidak menyadari kondisinya hingga muncul gangguan kesehatan yang lebih serius. Oleh sebab itu, mengenali tanda-tanda awal diabetes menjadi langkah penting untuk mendapatkan penanganan sedini mungkin.
Gejala Diabetes yang Sering tidak Disadari
Melansir dari laman National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK), beberapa gejala umum diabetes meliputi:
- Frekuensi buang air kecil yang meningkat.
- Mudah merasa haus.
- Sering merasa lapar meski sudah makan.
- Penglihatan kabur.
- Mudah lelah.
- Luka yang sulit sembuh.
Pada diabetes tipe 2, gejala dapat berkembang secara perlahan selama bertahun-tahun. Bahkan, sebagian orang tidak merasakan gejala yang jelas sehingga penyakit baru terdeteksi setelah muncul komplikasi. Selain gejala umum tersebut, NIDDK menyebutkan beberapa tanda lain yang kerap diabaikan, antara lain:
1. Kesemutan atau Mati Rasa pada Tangan dan Kaki
Kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang dapat merusak saraf. Akibatnya, penderita bisa mengalami sensasi kesemutan, mati rasa, atau nyeri pada tangan dan kaki.
2. Gangguan Penglihatan
Diabetes dapat mempengaruhi pembuluh darah kecil di mata sehingga menyebabkan gangguan penglihatan, mulai dari pandangan kabur hingga penurunan kemampuan melihat.
3. Masalah Seksual
Kerusakan saraf dan gangguan aliran darah akibat diabetes juga dapat mempengaruhi fungsi seksual, baik pada pria maupun wanita.
4. Nyeri Dada
Diabetes yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah, yang salah satu gejalanya dapat berupa nyeri dada.
Risiko dan Cara Pencegahan Diabetes
Jika tidak dikelola dengan baik, diabetes dapat meningkatkan risiko berbagai komplikasi serius bagi tubuh, mulai dari penyakit jantung, stroke, kerusakan ginjal, kerusakan saraf, hingga gangguan penglihatan yang berpotensi memicu kebutaan. Selain itu, penderita juga rentan mengalami luka kronis yang sulit sembuh serta gangguan sirkulasi darah pada kaki yang dapat berujung pada tindakan amputasi. Oleh karena itu, deteksi dini dan pengendalian kadar gula darah secara konsisten menjadi langkah yang sangat krusial gina mencegah dampak kesehatan yang lebih berat.
Melansir dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), beberapa faktor risiko seperti usia dan riwayat keluarga memang tidak dapat diubah. Namun, risiko diabetes tipe 2 dapat dikurangi melalui perubahan gaya hidup sehat, di antaranya:
- Rutin Beraktivitas Fisik: Aktivitas fisik membantu tubuh menggunakan insulin dengan lebih efektif sekaligus menjaga berat badan tetap ideal.
- Mengonsumsi Makanan Sehat: Perbanyak konsumsi buah, sayuran, biji-bijian utuh, dan makanan bergizi seimbang. Batasi makanan tinggi gula, garam, dan lemak jenuh.
- Menjaga Berat Badan Ideal: Kelebihan berat badan dan obesitas merupakan faktor risiko utama diabetes tipe 2. Penurunan berat badan secara bertahap dapat membantu menurunkan risiko secara signifikan.
Selain pola makan dan aktivitas fisik, American Heart Association (Heart.org) menyoroti pentingnya mengendalikan tekanan darah. Tekanan darah tinggi yang tidak diobati dapat memperburuk komplikasi diabetes dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.
Merokok juga menjadi faktor yang dapat memperbesar risiko berbagai komplikasi. Oleh karena itu, berhenti merokok merupakan salah satu langkah penting dalam menjaga kesehatan secara keseluruhan.
(Jessica Nur Faddilah)