Abu Vulkanik Sinabung Selimuti Pemukiman dan Jalanan, Warga Diimbau Gunakan Masker

2 September 2026 16:36

Setelah lima tahun cenderung tenang, Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatra Utara, kembali menunjukkan aktivitas vulkanik besar. Erupsi ini menghasilkan kolom abu setinggi 3.500 meter dan memaksa warga di sekitar zona merah untuk segera dievakuasi.

Material abu vulkanik tebal terpantau menyelimuti pemukiman warga, menutupi atap rumah, jalanan, hingga kendaraan. Sebaran abu dilaporkan menjangkau radius hingga 20 kilometer ke arah timur dan tenggara. Kondisi ini membuat warga yang beraktivitas di luar ruangan wajib mengenakan masker tebal guna menghindari gangguan pernapasan.

"Lumayan tebal. Lumayan tebal. Kita lihat mulai dari mobil-mobil, sepeda motor, baju pun, putih semua," ujar salah satu warga Karo, Bahari Helmi dalam tayangan Breaking News Metro TV, Rabu, 2 September 2026.

Evakuasi zona merah

Merespons peningkatan aktivitas ini, Pemerintah Daerah bersama personel TNI dan Polri bergerak cepat mengevakuasi warga dari Desa Payung dan Desa Kuta Tengah. Kedua desa tersebut masuk dalam kawasan zona merah yang dilarang untuk aktivitas manusia.
 


Dansatgas Tanggap Darurat Sinabung, Letkol Inf. Robert Panjaitan, menegaskan bahwa langkah ini diambil sesuai rekomendasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

"Kita harus mengikuti rekomendasi dari PVMBG. Apabila situasi atau eskalasi menurun, tentunya yang bersangkutan memberikan informasi. Harapan kami sih cepat, sehingga kita bisa, masyarakat bisa kembali bertani untuk bisa melakukan aktivitas sediakalanya," kata Robert.

Peningkatan aktivitas sejak Agustus

Tim Pemantauan Observatorium Sinabung menyatakan, bahwa tanda peningkatan aktivitas sebenarnya sudah terdeteksi sejak sebulan terakhir. Puncaknya, pada 13 Agustus 2026. Petugas telah menaikkan radius aman dari sebelumnya 2 kilometer menjadi 3 kilometer, serta memperluas jarak sektoral dari 3,5 kilometer menjadi 4,5 kilometer.

Gunung Sinabung sendiri memiliki sejarah erupsi yang panjang sejak kembali aktif pada tahun 2010 setelah dorman selama 400 tahun. Hingga saat ini, pihak berwenang terus bersiaga memantau perkembangan gunung api tersebut guna meminimalisir dampak risiko bagi keselamatan warga.

(Firny Firlandini Budi)


Close Ads X
Close Ads X