21 February 2026 00:53
Indonesia dan Amerika Serikat resmi menandatangani kesepakatan dagang strategis di bidang minyak dan gas senilai USD 15 miliar. Kesepakatan ini dicapai dalam pertemuan bilateral antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump di Washington DC pada Kamis, 19 Februari 2026.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menjelaskan bahwa kerja sama ini bertujuan untuk menyeimbangkan neraca perdagangan kedua negara sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
"Untuk memberikan keseimbangan neraca perdagangan kita, kami dari ESDM akan membelanjakan kurang lebih USD15 miliar, terdiri dari membeli BBM jadi, elpiji, dan sudah barang tentu ini merupakan langkah sejarah baru," kata Bahlil yang dikutip dari program Breaking News Metro TV, Jumat, 20 Februari 2026.
Pembelanjaan tersebut, dilakukan di Amerika Serikat. Menurut Bahlil, bukan berarti hal itu akan menambah volume impor Indonesia. "Kita menggeser volume impor kita dari beberapa negara," kata Bahlil.
Kerja sama ini juga mencakup peningkatan porsi impor elpiji dari Amerika Serikat yang semula 57% menjadi 70%. Langkah ini diharapkan dapat menciptakan mekanisme ekonomi yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak.
"Ini kan (impor BBM) hanya main switch saja dari negara lain ke Amerika. Dan apalagi kan kalau kita masuknya dengan tarif 0% ke negara kita, berarti kan harus lebih murah dong. Ini kan menguntungkan kita sebenarnya," kata Bahlil.
| Baca juga: Dubes AS Sebut Indonesia Pasar Penting dalam Perjanjian Dagang Timbal Balik |