Trump Klaim Menang atas Iran, Tapi 'Keok' di Selat Hormuz

21 March 2026 22:47

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengklaim kemenangan besar dalam agresi militer terhadap Iran yang telah berlangsung selama dua pekan terakhir. Trump menyebutkan bahwa kemenangan tersebut diraih hanya dalam waktu dua hari sejak agresi dimulai.

Dalam sebuah upacara militer di Washington DC, Trump menyatakan bahwa angkatan laut Iran kini telah musnah akibat gempuran armada AS. Ia mengklaim sebanyak 58 kapal Iran telah tenggelam ke dasar laut, yang menurutnya membuktikan superioritas armada laut Amerika Serikat yang tidak tertandingi oleh siapa pun di dunia.

"Perbedaan antara mereka dan kita adalah mereka memiliki angkatan laut dua minggu lalu, sekarang mereka tidak punya lagi. Semuanya ada di dasar laut," ujar Trump dalam pidatonya.

Namun, klaim kemenangan ini berbanding terbalik dengan fakta di lapangan. Hingga saat ini, Iran dilaporkan masih melancarkan perlawanan sengit meski agresi telah memasuki pekan ketiga. Selain itu, ketegangan ini harus dibayar mahal dengan penutupan Selat Hormuz bagi armada AS dan sekutunya, sebuah langkah yang memicu kekhawatiran akan terjadinya krisis ekonomi global.
 

Baca juga: Tepis Rumor Kematiannya, Mojtaba Khamenei Akhirnya Muncul ke Publik

Trump Akui Rakyat Iran Cerdas dengan IQ Tinggi

Di tengah eskalasi yang terus memanas, Trump melontarkan pernyataan kontradiktif dengan memuji rakyat Iran sebagai bangsa yang cerdas dan tangguh. Ia mengibaratkan konflik ini sebagai permainan catur tingkat tinggi yang melibatkan pemain-pemain dengan tingkat intelektual dan IQ yang sangat tinggi.

"Ketika Anda berhadapan dengan mereka (orang Iran), Anda tahu dengan siapa Anda berurusan, intelegensi tinggi, orang-orang dengan IQ tinggi, sangat tinggi," kata Trump.

Lebih lanjut, Trump secara terbuka mengakui bahwa situasi di lapangan tidak sesuai dengan prediksi awal. Ia menyebut perhitungan strategis yang dibuat sebelumnya meleset dari kenyataan dan mulai menyalahkan para pembantunya atas masukan yang dinilai tidak akurat dalam membaca kekuatan serta respons militer Iran.

Pujian Trump Dibalas Sindiran Keras Iran

Pernyataan Trump tersebut segera mendapat tanggapan tajam dari pihak militer Iran. Juru bicara Markas Pusat Khatam Al-Anbiya Ebrahim Zolfaghari, menyindir balik Trump dengan menyebutnya sebagai seorang 'penjudi' yang mencoba menentukan hasil perang melalui media sosial.

Sulfagari menegaskan bahwa hasil peperangan ditentukan di medan laga, bukan melalui cuitan di platform X (dahulu Twitter). Ia bahkan memberikan julukan baru bagi konflik ini dari sudut pandang Iran.

"Lebih tepat menyebut perang ini sebagai 'Ketakutan Epik' (Epic Fear) daripada 'Kemarahan Epik' (Epic Fury)," tegas Ebrahim Zolfaghari.

Hingga saat ini, situasi di kawasan Teluk masih jauh dari kata aman. Ketegangan kedua negara yang berlanjut membawa risiko eskalasi yang lebih luas. Sementara dunia menunggu apakah pujian Trump terhadap Iran merupakan sinyal perubahan strategi diplomasi atau sekadar pengakuan atas kesalahan perhitungan.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Anggie Meidyana)