18 January 2026 18:34
Ketidakpastian masih menyelimuti keluarga korban jatuhnya pesawat ATR 42-500 di Pegunungan Bulu Saraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Hingga Minggu, keluarga para awak dan penumpang terus memanjatkan doa sembari menanti informasi resmi dari tim SAR gabungan di lapangan.
Salah satu keluarga yang tengah dirundung cemas adalah Muksin, ayah dari Deden Muliana. Ia menuturkan, komunikasi terakhir dengan putranya terjadi pada 15 Januari lalu, tepat sebelum Deden berangkat menjalankan tugas. Sejak saat itu, ponsel sang putra tak lagi bisa dihubungi.
Demi mendapatkan kepastian, istri, anak, dan adik Deden dijadwalkan segera terbang ke Makassar untuk membantu proses identifikasi (DVI). Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memastikan telah memfasilitasi seluruh dokumen dan kebutuhan administrasi keberangkatan keluarga.
Dukungan Penuh KKP
Suasana haru juga terekam di kediaman Yoga Naufal dan Feri Irawan. Keduanya merupakan rekan sejawat Deden di KKP yang turut serta dalam penerbangan misi pengawasan kelautan rute Yogyakarta-Makassar tersebut. Kerabat dan tetangga tampak silih berganti berdatangan memberikan penguatan moril.
Sebagai bentuk tanggung jawab dan empati, jajaran petinggi KKP turun langsung menemui keluarga korban. Wakil Menteri KKP, Laksamana Madya (Purn) Didit Herdiawan Ashaf, mengunjungi kediaman Feri Irawan. Sementara itu, Menteri KKP Wahyu Sakti Trenggono mendatangi rumah para stafnya pada Minggu dini hari.
Trenggono menyampaikan belasungkawa mendalam dan berjanji akan mendampingi keluarga melewati masa sulit ini. "Tentu saya sangat sedih. Saya bertemu dengan istri dan anak-anak para korban, perasaan saya campur aduk. Yang terpenting saat ini, kita semua berdoa yang terbaik," ujar Trenggono dengan nada bergetar.
Ia menegaskan, KKP akan memfasilitasi seluruh kebutuhan keluarga, termasuk akomodasi bagi mereka yang diperlukan kehadirannya dalam proses identifikasi di Makassar. Trenggono telah menginstruksikan jajarannya untuk mengawal proses ini hingga tuntas.
Saat ini, harapan keluarga sepenuhnya digantungkan pada kerja keras tim SAR gabungan yang tengah berjuang menembus medan berat dan cuaca ekstrem untuk mengevakuasi para korban.
(Farouq Faza Bagjawan Alnanto)