12 August 2026 10:20
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menargetkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur, dapat dipadamkan seluruhnya pada Jumat, 14 Agustus 2026. Hingga saat ini, luas area yang terbakar disebut mencapai 921 hektare.
"Kita targetkan, kita targetkan Jumat ini sudah selesai. Jadi ini mohon doanya supaya tim di lapangan benar-benar bisa optimal untuk mencapai target Jumat Bromo sudah padam," kata Deputi II Pencegahan BNPB Abdul Muhari dalam tayangan Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Rabu 12 Agustus 2026.
Ia mengatakan masih terdapat sejumlah firespot yang menjadi kendala dalam proses pemadaman.
"Memang daerah yang sudah terbakar itu cukup luas, dengan posisi yang masih ada firespot kemarin itu di tiga titik: B30, Lembah Dingklik, dan ada beberapa titik api di Penanjakan," ujar Abdul.
Menurutnya, sebagian besar area yang dapat dijangkau oleh petugas darat sudah berhasil dipadamkan. Namun, masih ada sejumlah titik api yang berada di medan ekstrem sehingga menyulitkan proses pemadaman.
"Untuk daerah-daerah lain yang masih bisa dijangkau oleh tim darat, artinya damkar masih bisa masuk ke situ, itu sudah padam," katanya.
Ia menjelaskan titik api yang tersisa membakar kawasan sabana dengan kondisi lereng yang sangat curam. Kemiringan di sejumlah lokasi bahkan mencapai lebih dari 80 derajat.
"Tetapi di titik-titik api ini, seperti terlihat di visual, ini adalah titik di mana firespot itu menjangkau atau membakar sabana padang rumput di kelerengan lebih dari 80 derajat. Sehingga tim darat tidak bisa ke sana," jelasnya.
Karena kondisi medan tersebut, BNPB mengandalkan pemadaman melalui udara menggunakan helikopter water bombing.
"Ini memang satu-satunya cara adalah dengan water bombing," tegas Abdul Muhari.
Sebanyak tiga helikopter water bombing disiagakan untuk mempercepat proses pemadaman. Satu helikopter memiliki kapasitas 4.000 liter atau sekitar empat ton air dalam sekali penyiraman, sedangkan dua helikopter lainnya memiliki kapasitas masing-masing 1.000 liter.
"Ada tiga heli water bombing, satu dengan kapasitas 4.000 liter atau empat ton dan dua kapasitas satu ton," ungkapnya.
Abdul Muhari optimistis kebakaran di Bromo dapat segera dikendalikan karena karakteristik lahan yang terbakar merupakan sabana, bukan lahan gambut.
"Ini bukan lahan gambut, jadi api sabana ini kita harapkan bisa segera kita atasi dengan optimalisasi tiga heli ini," ujarnya.
Di sisi lain, BNPB juga menyiagakan pesawat untuk operasi modifikasi cuaca. Namun, upaya tersebut belum dapat dilakukan karena kondisi atmosfer belum mendukung.
"Pesawat modifikasi cuaca kita juga standby," kata Abdul Muhari.
Berdasarkan informasi BMKG, pertumbuhan awan hujan di wilayah Jawa hingga akhir Agustus masih sangat tipis. Kondisi tersebut membuat operasi modifikasi cuaca tidak efektif dilakukan.
"Untuk daerah-daerah khususnya daerah bagian selatan khatulistiwa, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian tengah ke selatan dan seterusnya, itu hingga akhir Agustus itu hampir tidak mungkin dilakukan operasi modifikasi cuaca," jelasnya.
BNPB baru memperkirakan peluang operasi modifikasi cuaca lebih memungkinkan setelah Agustus atau memasuki pekan-pekan pertama September, bergantung pada perkembangan awan hujan berdasarkan prediksi BMKG.
Abdul Muhari juga mengimbau masyarakat untuk ikut mencegah munculnya titik api. Menurutnya, kondisi kemarau dan angin kencang bukan penyebab utama kebakaran, melainkan menjadi faktor yang mempercepat penyebaran api.
"Karena kalau sudah ada api, itu kekeringan, angin, itu akan menjadi katalis untuk menyebarkan dan itu sangat sulit untuk kita untuk memadamkan," ujarnya.
Ia meminta masyarakat di wilayah rawan kebakaran tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu munculnya api.
"Mari sama-sama kita mencegah supaya tidak ada api," pungkasnya.