Achmad Zulfikar Fazli • 14 May 2026 10:29
Jakarta: Sebuah insiden yang mengundang tanda tanya publik baru saja terjadi dalam ajang final Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat. Sebuah video potongan dari acara yang berlangsung pada hari Sabtu, 9 Mei 2026 tersebut kini menjadi perbincangan hangat di media sosial.
Kontroversi bermula ketika dewan juri memberikan penilaian yang sangat bertolak belakang terhadap dua regu pelajar yang memberikan kalimat jawaban serupa.
Kronologi Kejadian
Kejadian bermula ketika pembawa acara membacakan pertanyaan seputar pertimbangan wajib Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dalam memilih anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
1. Jawaban Regu C: Peserta dari SMAN 1 Pontianak yang tergabung dalam Grup C mendapat kesempatan menjawab pertama. Mereka menyebutkan bahwa anggota BPK
dipilih oleh DPR dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh Presiden.
2. Keputusan Juri untuk Regu C: Salah satu juri yang bertugas: Kepala Biro Pengkajian Setjen MPR
Dyastasita, justru memberikan sanksi pengurangan nilai sebesar minus lima untuk jawaban tersebut.
3. Jawaban Regu B: Tidak berselang lama, peserta dari Grup B asal SMAN 1 Sambas mengutarakan jawaban yang persis sama dengan Grup C.
4. Keputusan Juri untuk Regu B: Secara mengejutkan, juri Dyastasita membenarkan jawaban tersebut dan langsung memberikan nilai sempurna 10 poin untuk Grup B
dengan alasan inti jawaban sudah sesuai.
Protes Peserta dan Pembelaan Juri
Menyadari adanya kejanggalan nyata, perwakilan Grup C langsung mengajukan protes karena merasa jawaban mereka sama persis dengan Grup B. Merespons sanggahan tersebut, Dyastasita berdalih bahwa ia tidak mendengar Grup C menyebutkan unsur Dewan Perwakilan Daerah (DPD) secara lengkap.
Pembelaan juga datang dari juri lainnya, Kepala Bagian Sekretariat Badan Sosialisasi MPR
Indri Wahyuni. Ia menegaskan bahwa kejelasan pelafalan atau artikulasi peserta saat menjawab sangat krusial. Menurut Indri, apabila dewan juri merasa tidak mendengar intonasi dan artikulasi peserta dengan jelas, maka mereka memiliki hak penuh untuk menjatuhkan sanksi pengurangan nilai minus lima.
Tindak Lanjut dari Pihak Penyelenggara
Kejadian ini tentu memicu perdebatan luas di kalangan warganet yang menyayangkan standar ganda dalam penjurian. Laporan terkini menyebutkan bahwa pihak MPR akhirnya mengakui adanya kelalaian administratif dalam insiden tersebut. Sebagai bentuk pertanggungjawaban untuk menjaga kredibilitas acara, MPR dikabarkan telah mengambil langkah tegas dengan menonaktifkan oknum juri yang memicu polemik tersebut. MPR juga mengambil langkah untuk mengulang babak final cerdas cermat tersebut. MPR berjanji menggunakan juri independen.
(Daffa Yazid Fadhlan)