Jakarta: Setelah dunia menghadapi berbagai anomali cuaca dalam beberapa tahun terakhir, perhatian para ilmuwan kini kembali tertuju pada kemungkinan munculnya fenomena El Nino. Fenomena iklim global ini diperkirakan dapat memengaruhi pola cuaca di berbagai belahan dunia, mulai dari peningkatan suhu, perubahan curah hujan, hingga risiko bencana hidrometeorologi yang lebih tinggi.
El Nino merupakan siklus iklim alami yang terjadi akibat pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis. Dalam kondisi normal, angin pasat mendorong air hangat ke arah barat Pasifik. Namun saat El Nino terjadi, angin tersebut melemah atau bahkan berbalik arah sehingga panas menyebar ke wilayah timur sepanjang garis khatulistiwa.
Potensi El Nino 2026
Melansir dari
National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) melalui Climate Prediction Center, terdapat peluang sekitar 62 persen bahwa El Nino akan berkembang pada periode Juni hingga Agustus 2026.
Kemunculan
fenomena ini menandai berakhirnya fase dingin La Nina dan kembalinya fase hangat dalam siklus El Nino-Southern Oscillation (ENSO). Peralihan tersebut menjadi perhatian dunia karena berpotensi memicu perubahan signifikan pada sistem iklim global.
Ancaman “Super El Nino”
Melansir dari
Science Focus, istilah Super El Nino digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik meningkat lebih dari 2 derajat Celsius di atas kondisi normal.
Sepanjang sejarah pencatatan modern,
fenomena ekstrem ini hanya terjadi tiga kali, yakni pada 1982–1983, 1997–1998, dan 2015–2016. Ketiga periode tersebut dikenal memicu dampak cuaca yang luas di berbagai negara.
Sementara itu, National Geographic menyebutkan bahwa kekhawatiran terhadap kemungkinan terjadinya Super El Nino kembali mencuat. Meski demikian, para ilmuwan menegaskan bahwa intensitas El Nino 2026 masih sulit diprediksi dan terus dipantau melalui perkembangan suhu laut serta kondisi atmosfer global.
Dampak terhadap Cuaca Global
El Nino dikenal memiliki pengaruh besar terhadap pola cuaca dunia. Melansir dari Media Indonesia, beberapa dampak yang umum terjadi antara lain:
- Peningkatan curah hujan di sejumlah wilayah, termasuk bagian selatan Amerika Serikat, yang berpotensi memicu banjir dan tanah longsor.
- Kekeringan dan suhu yang lebih panas di wilayah lain, terutama daerah yang biasanya mengalami musim dingin lebih dingin.
- Perubahan aktivitas badai tropis, di mana El Nino dapat meningkatkan aktivitas badai di Pasifik tengah dan timur, tetapi justru mengurangi pembentukan badai di Samudra Atlantik.
Menurut
Weather.com, kondisi tersebut terjadi akibat meningkatnya
wind shear atau geser angin di kawasan Atlantik yang menghambat pembentukan siklon tropis.
Waspada Perubahan Iklim
Meski tidak selalu berkembang menjadi
fenomena ekstrem, NOAA memperkirakan terdapat peluang sekitar 50 persen bahwa El Nino kali ini dapat mencapai kategori kuat. Dampaknya umumnya mulai terasa pada periode Oktober hingga Mei.
Karena itu, berbagai negara diimbau untuk meningkatkan kesiapsiagaan terhadap perubahan pola cuaca yang dapat memengaruhi sektor pertanian, sumber daya air, ketahanan pangan, hingga risiko bencana seperti banjir dan kekeringan.
Secara keseluruhan, El Nino bukanlah fenomena baru dalam sistem iklim bumi. Namun, di tengah tren pemanasan global yang terus meningkat, setiap perkembangan fenomena ini menjadi perhatian penting karena berpotensi memperkuat berbagai dampak cuaca ekstrem di sejumlah wilayah dunia.
Nah, meskipun prediksi El Nino 2026 masih terus diperbarui, memahami karakteristik dan potensi dampaknya menjadi langkah penting agar masyarakat maupun pemerintah dapat lebih siap menghadapi perubahan cuaca yang mungkin terjadi dalam beberapa bulan ke depan.
Jangan lupa saksikan
MTVN Lens lainnya hanya di
Metrotvnews.com.
(Jessica Nur Faddilah)