3 Minggu Pascagempa NTT, Puskesmas Palue Masih Layani Pasien di Tenda Darurat

2 September 2026 15:04

Suda memasuki minggu ketiga pascagempa magnitudo 7,7 yang melanda Nusa Tenggara Timur (NTT). Namun, Puskesmas Rawat Inap Kecamatan Palue masih terpaksa melayani pasien di halaman gedung. Meski hasil pemeriksaan teknis menyatakan bangunan hanya mengalami kerusakan ringan, pelayanan kesehatan tetap dilakukan di tenda darurat demi keamanan dan kenyamanan psikologis.

Kepala Puskesmas Palue, Maria Mardiana Ngole, mengungkapkan bahwa selain karena status masa tanggap darurat yang diperpanjang Gubernur NTT hingga 12 September 2026, faktor trauma tenaga medis juga menjadi alasan utama.

"Teman-teman masih melayani pasien di luar karena kita masih dalam masa tanggap darurat, itu yang pertama. Yang kedua, teman-teman masih belum siap. Kayaknya masih takut-takut untuk mulai melakukan pelayanan di dalam jadi sementara mereka nyamannya masih di sini," ujar Maria dalam tayangan Metro Siang Metro TV, Rabu, 2 September 2026.

Pascagempa, terjadi peningkatan keluhan kesehatan di tengah masyarakat Pulau Palue. Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan myalgia menjadi kasus yang paling banyak ditangani.

Menurut Maria, kondisi ini dipicu oleh pola hidup di pengungsian. Banyak warga, terutama lansia, tidur di tenda-tenda mandiri tanpa selimut yang memadai dan terpapar debu dalam jangka waktu lama. Keluhan nyeri sendi atau artritis juga mulai banyak dialami oleh pasien lanjut usia.
 



Krisis Tenaga Medis dan Dokter Tetap

Di tengah situasi darurat ini, Puskesmas Palue juga harus berjuang dengan keterbatasan personel. Sebagai puskesmas rawat inap yang beroperasi 24 jam, layanan dibagi menjadi dua shift besar (pagi-malam) karena minimnya jumlah tenaga kesehatan.

Mirisnya, puskesmas ini diketahui tidak memiliki dokter tetap. Selama ini, tenaga medis hanya melakukan konsultasi jarak jauh dengan dokter dari Puskesmas Tuanggeo. Meski saat ini mendapatkan bantuan tenaga relawan dari Kementerian Kesehatan, IDI, dan Yayasan Karitas, kebutuhan akan dokter permanen sangat mendesak mengingat lokasi Palue yang berada di wilayah kepulauan.

Kondisi Bangunan Mengkhawatirkan

Pantauan di lokasi menunjukkan kerusakan fisik gedung yang cukup terlihat, seperti plafon yang ambruk serta retakan dinding di hampir seluruh ruangan, termasuk ruang farmasi.

Walaupun tim ahli dari Kementerian PUPR telah memberikan label hijau atau kategori aman, pihak puskesmas memilih untuk tetap waspada. Rencananya, pelayanan akan dipindahkan kembali ke dalam gedung secara bertahap setelah masa tanggap darurat resmi berakhir, dengan harapan masyarakat dapat berobat dengan lebih nyaman.

(Firny Firlandini Budi)


Close Ads X
Close Ads X