Sehari menjelang puncak perayaan Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 BE/2026, rombongan Bhikkhu Tudong akhirnya tiba di kawasan Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Kedatangan para biksu yang telah menempuh perjalanan spiritual selama kurang lebih tiga minggu ini disambut penuh suka cita dan kemeriahan oleh umat Buddha setempat.
Rombongan Bhikkhu Tudong tahun ini diikuti oleh para biksu dari sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara, di antaranya Thailand, Laos, dan Malaysia. Mereka memulai titik awal perjalanannya dari Pulau Bali pada 9 Mei 2026 lalu, sebelum akhirnya menyeberang dan melanjutkan perjalanan darat membelah Pulau Jawa menuju Candi Borobudur.
Total jarak yang ditempuh dengan berjalan kaki mencapai 666 kilometer. Ritual Tudong sendiri merupakan sebuah tradisi dan prosesi perjalanan spiritual ekstrem yang dilakukan oleh para biksu Buddha. Dengan berjalan kaki menempuh ratusan hingga ribuan kilometer, ritual ini menjadi lambang dari tingkat kesabaran tertinggi, kesederhanaan, serta dedikasi mutlak terhadap ajaran agama.
Prosesi Sanghadana dan Penyerahan Pohon
Setibanya di pelataran Candi Borobudur, prosesi penyambutan dilanjutkan dengan penyerahan Sanghadana (persembahan umat kepada para biksu).
Dalam momen khidmat tersebut, perwakilan Bhikkhu Tudong juga melakukan penyerahan simbolis berupa pohon kepada pihak pengelola Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur. Penyerahan ini turut didampingi langsung oleh Ketua Umum DPP Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) serta Direktur Urusan dan Pendidikan Agama Buddha Kementerian Agama RI.
Persiapan Altar Perdamaian
Memasuki siang hari, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan persiapan dan pembersihan altar utama yang akan digunakan pada puncak perayaan Tri Suci Waisak. Keberadaan altar ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan sarat akan makna perdamaian, kesejukan hati, dan ajakan bagi umat manusia untuk hidup berdampingan secara harmonis.
Penanggung Jawab Altar Waisak Candi Borobudur, Bhante Nu Mahathera, menjelaskan filosofi mendalam dari patung Buddha yang ditempatkan di atas altar tersebut.
"Kami berharap semua umat, baik Buddhis maupun non-Buddhis, menjadi satu hati dengan pola pikir damai, tenang, dan tambah bijaksana. Sesuai dengan patung Buddha di altar yang tangannya membentuk postur (tertentu), itu melambangkan agar jangan melakukan kejahatan apa pun, baik yang kecil maupun besar. Ini juga melambangkan damai hati, damai pikiran, dan damai ucapan," ucap Bhante Nu Mahathera dikutip dari
Metro Hari Ini, Metro TV, Sabtu 30 Mei 2026.