Dunia sains seringkali dianggap rumit, namun bagi Natanael Wiraatmaja, rasa ingin tahu yang besar telah membawanya terbang jauh dari Bandung hingga ke markas besar NASA di Amerika Serikat. Siswa sekolah dasar (SD) berusia delapan tahun ini sukses mengukir prestasi gemilang di tingkat internasional.
Hingga saat ini, Natanael telah mengoleksi lebih dari 20 penghargaan dari berbagai ajang olimpiade sains nasional maupun internasional. Jejak prestasinya terpajang rapi dalam bentuk piagam dan medali di kediamannya di kawasan Mekarwangi, Kota Bandung.
Pintu Menuju NASA
Salah satu pencapaian terbesar Natanael diraih saat ia sukses mengikuti Grand Final NEO Science Olympiad 2025 yang diselenggarakan di Orlando, Amerika Serikat. Berkat prestasi tersebut, Natanael mendapatkan kesempatan langka untuk mengunjungi kantor pusat NASA.
Di sana, ia berkesempatan melihat langsung pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi antariksa dunia. Pengalaman ini memberikan kesan mendalam bagi bocah yang gemar membaca buku sains ini.
"Di NASA aku melihat banyak roket, ada roket Artemis satu atau dua. Terus pas mau pulang, aku melihat roket launching buat meluncurkan satelit telekomunikasi," kata Natanael dikutip dari tayangan
Selamat Pagi Indonesia, Metro TV, Kamis, 23 Juli 2026.
Ia juga mencoba fasilitas virtual reality untuk merasakan pengalaman menjadi seorang
astronot.
Berawal dari Science Club
Ketertarikan Natanael pada sains bermula dari keikutsertaannya dalam science club di
sekolah. Kemenangan pertama dengan medali emas di kompetisi awal menjadi pemacu semangatnya untuk terus belajar.
Meski berprestasi, Natanael tetaplah anak-anak pada umumnya. Di waktu luang, ia gemar bermain sepak bola dengan teman sebaya, bermain drum, hingga hobi unik mencari dan mengamati hewan kecil di sekitar rumahnya.
"Harus konsisten, belajar terus, sama jangan takut bahkan jika lawanmu lebih besar, kan itu nggak tarung fisik," pesan Natanael bagi teman-teman sebayanya.
Peran Orang Tua: Prestasi Bukan Target Utama
Keberhasilan Natanael tidak lepas dari pola asuh kedua orang tuanya, Immanuel Wiraatmaja dan Novita Setiawan Lim. Bagi mereka, prestasi bukanlah target utama yang harus dikejar dengan tekanan.
Immanuel mengungkapkan bahwa mereka sangat menghargai keputusan sang anak. "Kita benar-benar nggak kasih target apa-apa selama anaknya happy. Ada saatnya dia bilang mau istirahat dua bulan nggak ikut lomba apa-apa, dan kita hargai itu," tuturnya.
Sementara itu, Novita menerapkan metode diskusi untuk merangsang pola pikir kritis Natanael. Jika sang anak bertanya, ia tidak langsung memberikan jawaban. "Biasanya kita tanya balik lagi, 'menurut Nael gimana?'. Kalau kita sama-sama nggak tahu, kita ajak cari bareng-bareng jawabannya," jelas Novita.
Kisah Natanael membuktikan bahwa potensi besar dapat tumbuh subur dari rasa ingin tahu yang dipelihara sejak dini. Dengan dukungan lingkungan yang tepat, minat seorang anak mampu membawa harum nama Indonesia di kancah internasional.