Khamenei Tewas Dalam Serangan AS-Israel, Siapa Penggantinya?

1 March 2026 14:21

Iran menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari setelah mengonfirmasi wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, pada Minggu, 1 Maret 2026. Hingga kini, belum ada kejelasan mengenai sosok yang akan menggantikannya, sementara proses suksesi berada di tangan Dewan Pakar sesuai mekanisme konstitusi Iran.

Kabar wafatnya Ayatollah Ali Khamenei diumumkan secara resmi melalui televisi pemerintah dan diperkuat oleh sejumlah media nasional yang mengutip pernyataan otoritas Iran. Namun, pemerintah belum menjelaskan secara rinci penyebab kematiannya maupun siapa yang akan menjadi penggantinya.

Pemerintah Iran akan memanfaatkan masa berkabung 40 hari untuk menyiapkan proses suksesi kepemimpinan. Pemilihan pengganti akan dilakukan oleh Dewan Pakar sesuai ketentuan konstitusi yang berlaku di Iran.

"Dengan kematian Ayatollah Ali Khamenei, Iran akan terus mencari pemimpin baru. Mencari pemimpin baru bukanlah hal yang aneh, Iran punya mekanisme jelas ada Dewan Pakar yang terdiri dari tujuh Ayatollah senior yang akan memilih satu di antara mereka," tutur Mantan Duta Besar (Dubes) Republik Indonesia (RI) untuk Iran Dian Wirengjurit, dikutip dari Breaking News, Metro TV, Minggu, 1 Maret 2026.  
 

Baca Juga: Zelensky Sebut Serangan AS-Israel ke Iran Peluang Gulingkan Rezim

Dian menilai, serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran dipicu oleh posisi strategis Iran yang sektor energinya tidak mudah dipengaruhi AS. Ia menyebut wafatnya Khamenei menjadi target kunci untuk melemahkan kendali internal Iran, karena jika negara itu dapat dikuasai, AS berpeluang memperluas pengaruhnya atas kawasan minyak dunia.

"Saya yakin di benak mereka (AS-Israel) adalah membunuh pemimpin besar Iran. Potensi Iran di bidang energi sangat besar, inilah yang menjadi sasaran AS dan anteknya itu. Karena Iran adalah satu-satunya negara yang belum berhasil dikuasai atau dibawah pengaruhnya. Kalau Iran berhasil dikuasai, AS akan menjadi penguasa wilayah yang terkaya minyaknya di dunia," jelas Dian. 

(Alfiah Ziha Rahmatul Laili)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Nopita Dewi)